Minggu, 17 Oktober 2010

about me

ravika adlina putriyani lahir di depok pada tanggal 2 mei 1994.
w punya adik dua" y cowo dan gemuk" .. w lahir dengan berat 3,2kg dari lahir banyak orang bilang w cerewet,lucu,imut... hehehehe
karna terlahir sebagai anak pertama dan jarak dari w ke adik w 9tahun yang ke 2, tapi di umur 5tahun dya meninggal terkena demam berdarah(DBD) ,, sedih sih tapi w gak berlarut" dalam kesedihan w ..
selang setahun w punya adik lagi ,, dya mirip banged  sama ade w yang udah meninggal, jarak w ke ade w yg ke2 15thun jauhkan hehehehe .. kemudian  sekolah pertama w di TK islam miftahul jannah .. lagi" w di bilang cerewet dlu w pnya temen nama y RIRIS dya cowok  putih ,gemuk,mata y sipit waktu itu w akrab bgt sama dya sampe" w gak bawa bekel w boleh minta bekel dya,, cuma karna mash kecil w belom tau malu kali ya bekel dya w abisin tapi dya gk marah .. tuch kan jadi inget dya w :) 
sekarang w gk pernah ktmu dya terakhir waktu smp lalu w sekolah w di sdn pondok cinas dari kls 1 mpe kls 6 w pnya bnyak sahabat yg enjoy banget ..

Sabtu, 16 Oktober 2010

Hasil dari Pelayanan Jasa Salon

Bagi wanita yang ingin tampil prima dan selalu cantik, biasanya akan menggunakan perawatan kecantikan di salon. Tentu kadang akan ada kendala biaya yang boleh dikata mahal. Ritual ke salon ini memang seringkali menguras dompet, namun ada tips untuk menyiasati hemat disalon ini.

Sebelum melanjutkan pada tipsnya maka perlu diingatkan bahwa kecantikan wanita yang sesungguhnya sebenarnya bukan hanya pada kecantikan lahiriah, tapi inner beauty juga harus ikut dirawat, mungkin perlu tahu referensi di postingan Letak Kecantikan Wanita Yang Sesungguhnya agar lebih lengkap.

Setelah kecantikan didalam baik, maka sekarang kita mulai tips hemat biaya perawatan kecantikan di salon:

1. Cari Training Salon

Jika Anda hanya ingin treatment rambut, atau manicure - pedicure dengan harga yang terjangkau, coba pilih salon-salon training. Saat ini banyak salon terkemuka yang membuka salon khusus untuk melatih para calon hairstylist atau terapis. Kualitas pelayanan salon training gini gak kalah kok dengan yang sudah profesional.
2. Pilih Salon Murah Meriah
Info Download:

Download Koleksi Film: Upin dan Ipin
Video Sinta and Jojo Dowload Lengkap
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1431 H / 2010

Tips/Trik:

Solusi Jika Gaji Anda Kurang
Cara Membuka Facebook Yang di Blokir
Tips Fellatio Untuk Keharmonisan Suami Istri
Obat Perangsang Wanita Manjur Bergaransi
Cara Download Video Youtube Paling Mudah
Penjelasan Zodiak (Zodiac) Ramalan Bintang
www.warungbebas.com

Kalau tujuan Anda pergi ke salon hanya untuk mendapatkan potongan rambut yang sangat simpel, seperti memotong poni yang sudah terlalu panjang atau ingin potong rambut model lurus tanpa layer, coba minta bantuan ibu atau teman untuk memotongkan rambut Anda. Sehingga Anda tak perlu membayar mahal hairstylist profesional. Atau, pilih saja salon biasa di dekat rumah yang mematok harga standar. Begitu juga untuk creambath, salon-salon yang ada di kawasan perumahan, juga bisa memberikan pelayanan yang memuaskan dengan harga yang lebih murah.
3. Membeli Alatnya Sendiri

Daripada harus menghabiskan uang untuk mem-blow rambut setiap kali Anda pergi, lebih baik Anda membeli alat yang biasa digunakan para hairstylist profesional. Sebab, faktor penting tatanan rambut di salon terlihat istimewa adalah karena kualitas peralatan yang digunakan. Meskipun harga peralatannya mahal, toh, Anda bisa menggunakannya sepanjang waktu tanpa perlu selalu harus ke salon.
4. Perencanaan Perawatan

Salah satu hal yang membuat Anda sering habis uang banyak ketika berada di salon, karena tak adanya perencanaan yang matang. Niat semula yang hanya gunting rambut, tetapi kemudian tergoda rayuan si Mbak Salon, perawatan pun bertambah menjadi highlights, dan mani-pedi. Belum lagi ada embel-embel pemakaian produk tertentu. Tak terasa budget Anda pun membengkak 2 sampai 3 kali lipat. Karena itu, ada baiknya Anda rencanakan lebih dulu perawatan kecantikan apa yang akan Anda lakukan di salon.
5. Ambil Pilihan Paket Perawatan

Ketimbang Anda pulang-pergi ke salon hanya untuk perawatan satuan, lebih baik ambil beberapa perawatan sekaligus dalam satu waktu. Misalnya satu bulan sekali Anda nongkrong di salon untuk hair spa, facial, mani-pedi, dan sebagainya. Dengan begitu, Anda bisa berhemat biaya salon, transportasi, tip, dan makan. Buktikan saja, ini pasti akan terasa penghematannya kalau Anda teliti.
6. Jadilah Member

Bila Anda sudah cocok dengan salon tertentu, dan mendatanginya secara rutin, lebih baik Anda menjadi member salon tersebut. Biasanya ada penawaran menarik untuk anggota, di antaranya mendapat diskon khusus.
7. Di-mix Saja

Ada beberapa perawatan yang bisa disiasati, salah satunya highlights. Sebelum melakukan perawatan ini, cobalah untuk mewarnai sendiri rambut Anda dengan produk yang ada di konter-konter. Setelah itu baru temui penata rambut untuk memberi efek highlights agar hasil pewarnaan Anda maksimal. Dengan cara ini setidaknya Anda hanya perlu mengeluarkan setengah biaya dari proses keseluruhan.
8. Berikan Tip Secukupnya

Jika merasa puas dengan pelayanan penata rambut atau terapis di salon, sah-sah saja memberikan tip. Tapi, tidak perlu berlebihan, beri tip sepantasnya saja, kalau memang kelebihan mendingan untuk disumbangkan ke yayasan sosial saja. Misalnya untuk stylist yang menggunting atau mewarnai rambut Anda, bisa diberikan 10-20 persen dari jumlah biaya treatment.

Sedangkan untuk yang mencuci dan mem-blow rambut cukup berikan Rp 5 ribu - 10 ribu. Bahkan bila pemilik salon sendiri yang menata rambut Anda, tak perlu memberikan tip kepadanya. Yang penting, jangan lupa ucapkan terima kasih kepada mereka yang telah membantu melayani Anda.

Semoga Anda semakin cantik dan semakin banyak tabungannya... hehe.. kan sudah hemat biaya salonnya. Semoga Tips Hemat Biaya Perawatan di Salon ini bermanfaat

Pelayanan Jasa Kebersihan Gedung / Kantor.

Pelayanan Kontrak Pelayanan Jasa Kebersihan ( Contract Cleaning Program ) Yaitu pekerjaan kebersihan meliputi pemeliharaan dan perawatan Gedung / Kantor yang dikemas menjadi 1 ( satu ) paket dalam kontrak perjanjian untuk suatu periode, yang terdiri dari pekerjaan dengan jadual harian, mingguan, bulanan dan tahunan.

Disamping jenis pekerjaan, bahan kimia pembersih, peralatan kerja baik menual maupun machinal.

Dengan kata lain Manajemen Gedung memberi tanggung jawab sepenuhnya mengenai kebersihan yang meliputi pemeliharaan dan perawatan serta hygenitas Gedung kepada PT. DGU dan terikat dengan kontrak perjanjian kerja sama.

Dalam hal ini pihak Manajemen Gedung hanya bertindak sebagai pengawas pekerjaan.

Adapun lingkup pekerjaan kebersihan dan perawatan seluruh fasilitas Gedung / Kantor termasuk pekerjaan tenaga kerja sebagai Office Boy ( OB ) atay dapat fleksibel artinya dapat disesuaikan dengan kebutuhan Manajemen gedung.

1.2 Program Kebersihan Proyek Khusus ( Special Project Program )

Yaitu pekerjaan yang dilakukan berdasarkan permintaan dari pihak Manajemen Gedung / Kantor, misalnya melakukan pekerjaan tertentu yang dapat dikategorikan sebagai “ Risk Job “

Pekerjaan ini bersifat satu kali kerja ( One Stop Project ) dan berkala ( Continues ).

Jenis pekerjaan ini adalah :

a. Pembersihan kaca exterior dan interior gedung yang tidak dapat dilakukan di luar kemampuan Manajemen Gedung.

b. Pembersihan, Pemolesan, dan Kristalisasi lantai atau dinding, terutama yang terbuat dari marmer, granite, batu pualam maupun kayu.

c. Pembersihan / Pencucian, menghilangkan noda-noda kotoran karpet lantai permanen, dengan menggunakan mesin ( Extractor machine ).

d. Pembersihan / Pencucian sofa.

1.3 Program Kebersihan Keseluruhan ( General Cleaning Program )

Yaitu pekerjaan terutama lebih diperuntukan kepada gedung-gedung yang baru selesai direnovasi atau gedung lama yang menginginkan kebersihan secara menyeluruh.

Pekerjaan ini meliputi untuk seluruh fasilitas gedung yang ada, baik berupa lantai ( semua tipe ), karpet, kaca, furniture, sofa, AC grill, dinding, toilet dan fasilitas gedung lainnya.

Pekerjaan ini dilaksanakan 1 ( satu ) kali dan periodic, misalnya 6 ( enam ) bulan sekali.

Pekerjaan ini bertujuan untuk mengembalikan dan meningkatkan kualitas kebersihan dan hyginitas.


Pembantu Rumah Tangga Menjadikan Rumah Menjadi Bersih Dan Sehat

Rumah Sehat
Rumah pada dasarnya merupakan tempat hunian yang sangat penting bagi kehidupan setiap orang. Rumah tidak sekedar sebagai tempat untuk melepas lelah setelah bekerja seharian, namun didalamnya terkandung arti yang penting sebagai tempat untuk membangun kehidupan keluarga sehat dan sejahtera. Rumah yang sehat dan layak huni tidak harus berwujud rumah mewah dan besar namun rumah yang sederhana dapat juga menjadi rumah yang sehat dan layak dihuni Rumah sehat adalah kondisi fisik, kimia, biologi didalam rumah dan perumahan sehingga memungkinkan penghuni atau masyarakat memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain: rumah-sehat1

1. Sirkulasi udara yang baik.

2. Penerangan yang cukup.

3. Air bersih terpenuhi.

4. Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan pencemaran.

5. Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara kotor.

Persyaratan Kesehatan Rumah Tinggal menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 829/Menkes/SK/VII/1999 adalah sebagai berikut:

1. Bahan Bangunan

a. Tidak terbuat dari bahan yang dapat melepaskan zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan, antara lain sebagai berikut :

· Debu Total tidak lebih dari 150 µg m3

· Asbes bebas tidak melebihi 0,5 fiber/m3/4jam

· Timah hitam tidak melebihi 300 mg/kg

b. Tidak terbuat dari bahan yang dapat menjadi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme patogen.

2. Komponen dan penataan ruang rumah

Komponen rumah harus memenuhi persyaratan fisik dan biologis sebagai berikut:

a. Lantai kedap air dan mudah dibersihkan

b. Dinding

· Di ruang tidur, ruang keluarga dilengkapi dengan sarana ventilasi untuk pengaturan sirkulasi udara

· Di kamar mandi dan tempat cuci harus kedap air dan mudah dibersihkan

c. Langit-langit harus mudah dibersihkan dan tidak rawan kecelakaan

d. Bumbung rumah yang memiliki tinggi 10 meter atau lebih harus­ dilengkapi dengan penangkal petir

e. Ruang di dalam rumah harus ditata agar berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, ruang dapur, ruang mandi dan ruang bermain anak.

f. Ruang dapur harus dilengkapi dengan sarana pembuangan asap.

3. Pencahayaan

Pencahayaan alam atau buatan langsung atau tidak langsung dapat menerangi seluruh bagian ruangan minimal intensitasnya 60 lux dan tidak menyilaukan.

4. Kualitas Udara

Kualitas udara di dalam rumah tidak melebihi ketentuan sebagai berikut :

a. Suhu udara nyaman berkisar antara l8°C sampai 30°C

b. Kelembaban udara berkisar antara 40% sampai 70%

c. Konsentrasi gas SO2 tidak melebihi 0,10 ppm/24 jam

d. Pertukaran udara

e. Konsentrasi gas CO tidak melebihi 100 ppm/8jam

f. Konsentrasi gas formaldehide tidak melebihi 120 mg/m3

5. Ventilasi

Luas penghawaan atau ventilasi a1amiah yang permanen minimal 10% dari luas lantai.

6. Binatang penular penyakit

Tidak ada tikus bersarang di rumah.

7. Air

a. Tersedia air bersih dengan kapasitas minmal 60 lt/hari/orang

b. Kualitas air harus memenuhi persyaratan kesehatan air bersih dan air minum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Tersediannya sarana penyimpanan makanan yang aman dan hygiene.

9. Limbah

a. Limbah cair berasal dari rumah, tidak mencemari sumber air, tidak menimbulkan bau dan tidak mencemari permukaan tanah.

b. Limbah padat harus dikelola agar tidak menimbulkan bau, tidak menyebabkan pencemaran terhadap permukaan tanah dan air tanah.

10. Kepadatan hunian ruang tidur

Luas ruang tidur minimal 8m2 dan tidak dianjurkan digunakan lebih dari dua orang tidur dalam satu ruang tidur, kecuali anak dibawah umur 5 tahun.

Masalah perumahan telah diatur dalam Undang-Undang pemerintahan tentang perumahan dan pemukiman No.4/l992 bab III pasal 5 ayat l yang berbunyi “Setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan atau menikmati dan atau memiliki rumah yang layak dan lingkungan yang sehat, aman , serasi, dan teratur”

Bila dikaji lebih lanjut maka sudah sewajarnya seluruh lapisan masyarakat menempati rumah yang sehat dan layak huni. Rumah tidak cukup hanya sebagai tempat tinggal dan berlindung dari panas cuaca dan hujan, Rumah harus mempunyai fungsi sebagai :

1. Mencegah terjadinya penyakit

2. Mencegah terjadinya kecelakaan

3. Aman dan nyaman bagi penghuninya

4. Penurunan ketegangan jiwa dan sosial

Hasil Dari Pelayanan Cleaning Service

Cleaning Services
[Close Box]
PROMO TAHUN 2010

Kami menawarkan paket menarik untuk memenuhi kebutuhan Anda dalam memasarkan produk melalui Internet. Semua paket berlaku untuk kontrak 1 tahun sudak termasuk Domain, Hosting, dan Desain.

Lite Package


Static Package

Dynamic Package


Product Catalog

UDAH GAK ZAMAN PAKAI
TEMPLATE GRATIS!
Desain kami buat sendiri dari awal, bukan mempergunakan
template yang sudah ada.

PT. Dwidarma Guna Utama, bergerak dibidang Pelayana Jasa Kebersihan dan Perawatan, melayani hampir semua kebutuhan mengenai kebersihan dan perawatan interior maupun exterior baik public area maupun private area.

Bidang ini mempunyai cakupan yang luas, dari Perumahan, Gedung Perkantoran, Mall, Rumah Sakit maupun Industi dll.

Adapun pelayanan yang dapat kami berikan adalah MEMBERSIHAKAN dan MERAWAT semua fasilitas gedung interior, seperti : Lantai ( marmer, vynil, keramik, terrazzo, mozaik, batu alam, granite dan kayu ), dinding kaca, karpet, sofa, furniture, AC grill, fasilitas lift, toilet dlsb.

Dan juga fasilitas exterior, antara lain : teras, halaman, lantai parkiran, pertamanan, tempat sampah dlsb.

Wirausaha

Wirausahawan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Broom icon.svg
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Wikify
Keseluruhan artikel atau bagian tertentu dari artikel ini perlu di-wikifikasi.

Wirausahawan (Inggris : Entrepreneur) adalah orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menentukan cara produksi baru, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, memasarkannya, serta mengatur permodalan operasinya.[1]
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Pengertian
* 2 Mitos - Mitos
* 3 Perbedaan-Perbedaan
* 4 Sikap- sikap
* 5 Menjadi Wirausahawan
o 5.1 Menggali Diri
o 5.2 Memulai Usaha
o 5.3 Kemampuan yang Diperlukan
o 5.4 Kesalahan umum dan Solusi
* 6 Referensi

[sunting] Pengertian

Wirausahawan menciptakan sebuah bisnis baru dalam menghadapi risiko dan ketidakpastian untuk tujuan mencapai keuntungan dan pertumbuhan dengan mengidentifikasi peluang signifikan dan sumber daya yang diperlukan.[2]. Kamus Besar Bahasa Indonesi (KBBI) mendefinisikan wirausahawan sebagai "orang yang pandai atau berbakat mengenali produk baru, menyusun cara baru dalam berproduksi, menyusun operasi untuk pengadaan produk baru, mengatur permodalan operasinya, serta memasarkannya. Sedangkan, Louis Jacques Filion menggambarkan wirausahawan sebagai orang yang imajinatif, yang ditandai dengan kemampuannya dalam menetapkan sasaran serta dapat mencapai sasaran-sasaran itu. Ia juga memiliki kesadaran tinggi untuk menemukan peluang-peluang dan membuat keputusan. Persamaannya dari pengertian - pengertian tersebut yaitu wirausahawan memiliki dan mampu berpikir kreatif-imajinatif, melihat peluang dan membuat bisnis baru. Seorang wirausahawan adalah seorang manajer, tetapi melakukan kegiatan tambahan yang tidak dilakukan semua manajer.[3] Manajer bekerja dalam hierarki manajemen yang lebih formal, dengan kewenangan dan tanggung jawab yang didefinisikan secara jelas sedangkan pengusaha menggunakan jaringan daripada dari kewenangan formal. [3]
[sunting] Mitos - Mitos

Mitos- mitos tentang wirausahawan katanya wirausahawan adalah pelaku, bukan pemikir.[4] Seringkali mereka adalah orang yang sangat metodis sehingga merencanakan tindakan mereka dengan hati-hati.[4] Mereka dilahirkan, tidak diciptakan. Hari ini, pengakuan EAS Adiscipline membantu untuk menghilangkan mitos ini.[4] Seperti semua disiplin ilmu, wirausahawan memiliki model, proses, dan kasus yang memungkinkan topik untuk dipelajari.[4]

* Mereka adalah penemu, misalnya Ray Kroc, bukan ia yang menemukan waralaba makanan, tetapi ide-ide inovatifnya membuat McDonalds terbesar ke seluruh dunia.
* Mereka adalah orang aneh akademik dan sosial, keyakinan bahwa pengusaha adalah akademisi dan sosialisi yang tidak berhasil akibat dari beberapa pemilik usaha yang memulai perusahaan yang sukses setelah putus sekolah atau berhenti bekerja tapi tidak lagi dipandang demikian, saat ini dipandang sebagai seorang profesional.
* Orientasi wirausahawan adalah uang, uang adalah sumber daya tetapi tidak pernah menjadi tujuan akhir.
* Semua membutuhkan keberuntungan, benar bila keberuntungan berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat akan selalu menghasilkan keuntungan. Tapi keberuntungan terjadi ketika persiapan bertemu kesempatan.
* Wirausahawan adalah pengambil risiko yang ekstrim (penjudi), sebaliknya bekerja dengan resiko yang diperhitungkan.[4] Wirausahawan bekerja paling sukses keras lewat perencanaan dan persiapan untuk meminimalkan risiko yang terlibat dalam rangka untuk lebih mengontrol nasib visi mereka.

Perbedaan-Perbedaan

Antara wirausahawan dengan profesi lainnya:

Kelebihan - kelebihan yang dimiliki, yaitu:

1. Kesempatan untuk mewujudkan cita-cita.
2. Kesempatan untuk menciptakan perubahan.
3. Untuk mencapai potensi penuh Anda.
4. Untuk menuai keuntungan yang mengesankan.
5. Memberikan kontribusi kepada masyarakat dan mendapatkan pengakuan untuk usaha Anda.
6. Dapat melakukan apa yang disukai dan bersenang-senang.

Kekurangan yang dimiliki, yakni :

1. Ketidakpastian pendapatan, mendirikan dan menjalankan bisnis tidak memberikan jaminan akan mendapatkan cukup uang untuk bertahan hidup.
2. Risiko kehilangan seluruh investasi, tingkat kegagalan bisnis kecil relatif tinggi.
3. Jam kerja yang panjang dan bekerja keras, dun & Survei bradsheet melakukan survey, 65% dari wirausahawan mencurahkan waktunya 40 jam atau lebih setiap minggunya untuk perusahaan mereka.
4. Kualitas hidup lebih rendah sampai bisnis didirikan.
5. Tanggung jawab kompleks, banyak pengusaha diharuskan untuk membuat keputusan mengenai isu-isu di luar bidang ilmu.
6. Putus asa,sangat membutuhkan dedikasi, disiplin, dan keuletan untuk mengatasinya.

[sunting] Sikap- sikap

Sikap - sikap yang umum ditemui,yaitu:[2]

1. Keinginan untuk preferensi tanggung jawab atas risiko yang lebih besar, wirausahawan tidak mengambil resiko secara liar melainkan memperhitungkan terlebih dahulu risiko yang akan diambil.
2. Keyakinan akan kemampuan mereka untuk berhasil. Biasanya memiliki kepercayan diri terhadap kemampuan mereka untuk berhasil.
3. Keinginan untuk hasil segera.
4. Tingkat tinggi energi, lebih energik daripada rata-rata orang.
5. Orientasi terhadap masa depan. Berorientasi pada masa depan, wirausahawan kurang peduli dengan apa yang telah mereka lakukan kemarin dibandingkan dengan apa yang akan mereka lakukan besok.
6. Keahlian dalam pengorganisasian, tahu bagaimana menempatkan orang yang tepat di tempat yang tepat.
7. Secara efektif mencipatakan sinergi antara orang dan pekerjaan, sehingga memungkinkan wirausahawan untuk mewujudkan visi mereka menjadi kenyataan.
8. Nilai prestasi atas uang.

  Menjadi Wirausahawan
  Menggali Diri

Kunci untuk mengidentifikasi jiwa pengusaha adalah dengan cara melihat karakter seseorang, khususnya pada hal-hal yang menjadi kebiasaan, alami dan dilakukan dengan baik. Setiap dari kita, memiliki susunan karakter tertentu yang menjadikan kita, apa adanya. Kami menggunakan kata Tema Karakter untuk menggambarkan unsur-unsur yang membentuk susunan karakter. Mengetahui Tema Karakter Seseorang adalah permulaan.[5] Tema Karakter adalah inti, seperti pusat bola salju yang mengumpulkan lebih banyak salju ketika menggelinding menuruni bukit. Ia mengumpulkan pengetahuan dan pengalaman dalam prosesnya. Tema Karakter membentuk pengetahuan dan pengalaman dalam satu wilayah yang berhubungan. Bila seseorang dengan kreativitas sebagai tema karakter yang dominan, akan memiliki kemampuan lebih untuk mengatasi situasi yang membutuhkan adaptasi dan perubahan dibandingkan dengan yang memiliki tema karakter dengan kreativitas yang lebih rendah. Pengalaman Hidup dapat mengembangkan dan memperkuat tema karakter, tetapi dapat juga menguranginya. Pendidikan dan latihan juga memberikan bentuk dan ukuran bola salju, pentingnya mengetahui tema karakter kita tidak dapat diremehkan sebaliknya semakin cepat kita mengetahuinya akan lebih baik. [6] Wirausahawan memiliki enam tema karakter utama yang membentuk akronim:

F (Focus) untuk fokus,
A (Advantage) untuk keuntungan,
C (Creativity) untuk kreativitas,
E (Ego) untuk ego,
T (Team) untuk tim,
S (Social) untuk sosial.

 Memulai Usaha

Ada empat subkategori menjadi wirausahawan:[5]

1. Penemu, mendefinisikan konsep, unik, baru, penemuan atau metodologi
2. Inovator, menerapkan sebuah teknologi baru atau metodologi untuk memecahkan masalah baru.
3. Marketer, mengidentifikasi kebutuhan di pasar dan memenuhinya dengan produk baru atau produk substitusi yang lebih efisien.
4. Oportunis, pada dasarnya sebuah broker, pialang, yang menyesuaikan antara kebutuhan dengan jasa diberikan dan komisi.

Kemampuan yang Diperlukan

Keterampilan yang dibutuhkan oleh para pengusaha dapat dikelompokkan menjadi tiga area utama: keterampilan teknis seperti menulis, mendengarkan, presentasi lisan, pengorganisasian, pembinaan, bekerja dalam tim, dan teknis tahu-bagaimana(know-how), keterampilan manajemen usaha termasuk hal-hal dalam memulai , mengembangkan, dan mengelola perusahaan. Keterampilan dalam membuat keputusan, pemasaran, manajemen, pembiayaan, akuntansi, produksi, kontrol, dan negosiasi juga sangat penting dalam membangun dan mengembangkan usaha baru. Keterampilan terakhir melibatkan keterampilan kewirausahaan. Beberapa keterampilan ini, membedakan pengusaha dari manajer termasuk disiplin, pengambil risiko, inovatif, teguh, kepemimpinan visioner, dan yang berorientasi perubahan.[7]
  

Kesalahan umum dan Solusi

Berikut adalah sepuluh kesalahan umum yang sering dilakukan oleh wirausahawan, saat awal menjalankan bisnisnya:[3]

1. Kesalahan dalam Mengelola
2. Kurangnya Pengalaman

Manajer bisnis kecil perlu memiliki pengalaman jika mereka ingin mengembangkan usahanya.

3. Kontrol Keuangan Kurang

Bisnis yang sukses membutuhkan kontrol keuangan yang tepat.

4. Upaya Pemasaran yang Lemah,

Membangun konsumen untuk bertambah secara berkesinambungan membutuhkan usaha, pemasaran secara terus-menerus dan kreatif. Slogan, pelanggan secara otomatis akan datang, hampir tidak pernah terjadi.

5. Kegagalan untuk Mengembangkan Rencana Strategis.

Gagal dalam merencanakan, berarti gagal untuk bertahan.

6. Pertumbuhan Tidak Terkendali

Pertumbuhan adalah hal yang alami, sehat dan diinginkan oleh setiap perusahaan. Namun, harus direncanakan dan dikendalikan. Pakar manajemen Peter Drucker berkata perusahaan-perusahaan baru lebih baik untuk memperkirakan pertumbuhan modal hanya setiap peningkatan penjualan 40 hingga 50 persen.

7. Lokasi Kurang Strategis

Memilih lokasi yang tepat adalah sebagian seni dan sebagian ilmu. Seringkali, lokasi bisnis dipilih tanpa penelitian yang benar, investigasi, dan perencanaan.

8. Kontrol Persediaan yang Barang Buruk

Pengendalian persediaan barang adalah salah satu tanggung jawab manajerial yang sering terabaikan.

9. Harga Tidak Tepat

Menetapkan harga yang tepat sehingga menghasilkan keuntungan yang diperkirakan menuntut pemilik bisnis mengerti berapa biaya untuk membuat, memaasarkan dan mendistribusikan barang dan jasa.

10. Ketidakmampuan dalam Membuat Transisi Entreprenurial

Setelah memulai,akan terjadi pertumbuhan, biasanya membutuhkan gaya manajemen yang sangat berbeda. Pertumbuhan mengharuskan wirausahawan untuk mendelegasikan wewenangnya dan tidak menangani - kegiatan operasional sehari-hari - sesuatu yang tidak bisa dilakukan olehnya.

Berikut adalah solusi untuk mengatasinya:[8]

1. Mengenal bisnis secara mendalam.
2. Mengembangkan rencana bisnis yang matang.
3. Mengelola keuangan.
4. Memahami laporan keuangan.
5. Belajar mengelola manusia secara efektif.
6. Jaga kondisi Anda.

http://id.wikipedia.org/wiki/Wirausahawan

Juru Masak

Koki
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Koki
Cooks 050918 154402.jpg
Koki sedang magang di Paris
Pekerjaan
Jenis profesi
Bidang kegiatan seni kuliner
Deskripsi
Pendidikan akademi perhotelan, magang
Lapangan kerja dapur, rumah makan, hotel, kapal, militer

Koki atau juru masak adalah orang yang menyiapkan makanan untuk disantap. Istilah ini kadang merujuk pada chef, walaupun kedua istilah ini secara profesional tidak dapat disamakan. Istilah koki pada suatu dapur rumah makan atau restoran biasanya merujuk pada orang dengan sedikit atau tanpa pengaruh kreatif terhadap menu dan memiliki sedikit atau tanpa pengaruh apapun terhadap dapur. Mereka biasanya adalah semua anggota dapur yang berada di bawah chef (kepala koki).

Jenis restoran lain mungkin memiliki menu yang relatif konstan dan hanya memiliki orang-orang yang dapat menyiapkan makanan secara cepat dan konsisten, serta tidak terlalu membutuhkan kepala koki. Restoran jenis ini dapat dijalankan sepenuhnya oleh koki, contohnya pada restoran cepat saji.

Pengukuran Kepuasan Konsumen

Pengukuran Kepuasan Konsumen

Menurut Philip Kotler (1997:38) ada empat metode yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengetahui tingkat kepuasan konsumen yaitu :

a. Sistem keluhan dan saran
Untuk mengidentifikasikan masalah maka perusahaan harus mengumpulkan informasi langsung dari konsumen dengan cara menyediakan kotak saran. Informasi yang terkumpul untuk memberikan masukan bagi perusahaan.

b. Survei kepuasan konsumen
Survei kepuasan konsumen dapat dilakukan dengan cara survei melalui pos surat, telephone, maupun wawancara pribadi. Dengan metode ini perusahaan dapat menciptakan komunikasi 2 arah dan menunjukkan perhatiannya kepada konsumen.

c. Ghost Shopping
Metode ini digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan perusahaan pesaing dan membandingkannya dengan perusahaan yang bersangkutan.


d. Analisis kehilangan konsumen
Tingkat kehilangan konsumen menunjukkan kegagalan perusahaan dalam memuaskan konsumennya. Perusahaan seharusnya menganalisa dan memahami mengapa konsumen tersebut berhenti mengkonsumsi produk kita. Menurut Fandy Tjiptono (1997:35), metode yang digunakan untuk mengukur kepuasan konsumen dapat dengan cara :
a. Pengukuran dapat dilakukan secara langsung dengan pertanyaan.
b. Responden diberi pertanyaan mengenai seberapa besar mereka mengharapkan suatu atribut tertentu dan seberapa besar yang dirasakan.
c. Responden diminta untuk menuliskan masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk menuliskan masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan penawaran dari perusahan dan juga diminta untuk menuliskan perbaikan yang mereka sarankan.
d. Responden dapat diminta untuk meranking berbagai elemen dari penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen dan seberapa baik kinerja perusahan dalam masing-masing elemen. 


http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/kepuasan-konsumen-pengertian-jenis-dan.html

Manusia

Question book-new.png
Artikel ini membutuhkan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian.
Silakan bantu memperbaiki artikel ini dengan menambahkan catatan kaki.
Dua bocah cilik.

Manusia atau orang dapat diartikan berbeda-beda menurut biologis, rohani, dan istilah kebudayaan, atau secara campuran. Secara biologis, manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (Bahasa Latin untuk manusia), sebuah spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup; dalam mitos, mereka juga seringkali dibandingkan dengan ras lain. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.

Penggolongan manusia yang paling utama adalah berdasarkan jenis kelaminnya. Secara alamiah, jenis kelamin seorang anak yang baru lahir entah laki-laki atau perempuan. Anak muda laki-laki dikenal sebagai putra dan laki-laki dewasa sebagai pria. Anak muda perempuan dikenal sebagai putri dan perempuan dewasa sebagai wanita.

Penggolongan lainnya adalah berdasarkan usia, mulai dari janin, bayi, balita, anak-anak, remaja, akil balik, pemuda/i, dewasa, dan (orang) tua.

Selain itu masih banyak penggolongan-penggolongan yang lainnya, berdasarkan ciri-ciri fisik (warna kulit, rambut, mata; bentuk hidung; tinggi badan), afiliasi sosio-politik-agama (penganut agama/kepercayaan XYZ, warga negara XYZ, anggota partai XYZ), hubungan kekerabatan (keluarga: keluarga dekat, keluarga jauh, keluarga tiri, keluarga angkat, keluarga asuh; teman; musuh) dan lain sebagainya.

Tokoh adalah istilah untuk orang yang tenar (misalnya 'tokoh politik', 'tokoh yang tampil dalam film', 'tokoh yang menerima penghargaan', dll).
Daftar isi
[sembunyikan]

* 1 Biologi
o 1.1 Ciri-ciri Fisik
o 1.2 Ciri-ciri Mental
o 1.3 Habitat
o 1.4 Populasi
o 1.5 Asal Mula
* 2 Kerohanian dan Agama
o 2.1 Animisme
o 2.2 Mistikme
o 2.3 Politheisme
o 2.4 Monotheisme
* 3 Sang Individu
o 3.1 Hati dan kesadaran
o 3.2 Emosi
o 3.3 Seksualitas
o 3.4 Tubuh
o 3.5 Kelahiran dan kematian
* 4 Masyarakat
o 4.1 Bahasa
o 4.2 Agama
o 4.3 Keluarga dan teman sepergaulan
o 4.4 Suku, bangsa dan negara bagian
o 4.5 Kebudayaan dan peradaban
* 5 Renungan diri
* 6 Referensi
* 7 Lihat pula
* 8 Referensi
* 9 Pranala luar

[sunting] Biologi
?Manusia[1]
Rentang fosil: 0.2–0 Ma
PraЄ
Є
O
S
D
C
P
T
J
K
Pg
N
↓
Pleistocene - belakangan ini
Manusia berjenis kelamin laki- laki dan perempuan
Manusia berjenis kelamin laki- laki dan perempuan
Status konservasi
Status iucn3.1 LC.svg
Risiko Rendah (IUCN 3.1)
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mamalia
Ordo: Primate
Famili: Hominidae
Upafamili: Homininae
Bangsa: Hominini
Genus: Homo
Spesies: H. sapiens
Nama trinomial
Homo sapiens sapiens
Linnaeus, 1758
[sunting] Ciri-ciri Fisik

Dalam biologi, manusia biasanya dipelajari sebagai salah satu dari berbagai spesies di muka Bumi. Pembelajaran biologi manusia kadang juga diperluas ke aspek psikologis serta ragawinya, tetapi biasanya tidak ke kerohanian atau keagamaan. Secara biologi, manusia diartikan sebagai hominid dari spesies Homo sapiens. Satu-satunya subspesies yang tersisa dari Homo Sapiens ini adalah Homo sapiens sapiens. Mereka biasanya dianggap sebagai satu-satunya spesies yang dapat bertahan hidup dalam genus Homo. Manusia menggunakan daya penggerak bipedalnya (dua kaki) yang sempurna. Dengan ada nya kedua kaki untuk menggerakan badan, kedua tungkai depan dapat digunakan untuk memanipulasi obyek menggunakan jari jempol (ibu jari).

Rata-rata tinggi badan perempuan dewasa Amerika adalah 162 cm (64 inci) dan rata-rata berat 62 kg (137 pound). Pria umumnya lebih besar: 175 cm (69 inci) dan 78 kilogram (172 pound). Tentu saja angka tersebut hanya rata rata, bentuk fisik manusia sangat bervariasi, tergantung pada faktor tempat dan sejarah. Meskipun ukuran tubuh umumnya dipengaruhi faktor keturunan, faktor lingkungan dan kebudayaan juga dapat mempengaruhinya, seperti gizi makanan.

Anak manusia lahir setelah sembilan bulan dalam masa kandungan, dengan berat pada umumnya 3-4 kilogram (6-9 pound) dan 50-60 centimeter (20-24 inci) tingginya. Tak berdaya saat kelahiran, mereka terus bertumbuh selama beberapa tahun, umumnya mencapai kematangan seksual pada sekitar umur 12-15 tahun. Anak laki-laki masih akan terus tumbuh selama beberapa tahun setelah ini, biasanya pertumbuhan tersebut akan berhenti pada umur sekitar 18 tahun.
Sebuah kerangka manusia.

Warna kulit manusia bervariasi dari hampir hitam hingga putih kemerahan. Secara umum, orang dengan nenek moyang yang berasal dari daerah yang terik mempunyai kulit lebih hitam dibandingkan dengan orang yang bernenek-moyang dari daerah yang hanya mendapat sedikit sinar matahari. (Namun, hal ini tentu saja bukan patokan mutlak, ada orang yang mempunyai nenek moyang yang berasal dari daerah terik dan kurang terik; dan orang-orang tersebut dapat memiliki warna kulit berbeda dalam lingkup spektrumnya.) Rata-rata, wanita memiliki kulit yang sedikit lebih terang daripada pria.

Perkiraan panjang umur manusia pada kelahiran mendekati 80 tahun di negara-negara makmur, hal ini bisa tercapai berkat bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jumlah orang yang berumur seratus tahun ke atas di dunia diperkirakan berjumlah [1] sekitar 50,000 pada tahun 2003. Rentang hidup maksimal manusia diperhitungkan sekitar 120 tahun.

Sementara banyak spesies lain yang punah, Manusia dapat tetap eksis dan berkembang sampai sekarang. Keberhasilan mereka disebabkan oleh daya intelektualnya yang tinggi, tetapi mereka juga mempunyai kekurangan fisik. Manusia cenderung menderita obesitas lebih dari primata lainnya. Hal ini sebagian besar disebabkan karena manusia mampu memproduksi lemak tubuh lebih banyak daripada keluarga primata lain. Karena manusia merupakan bipedal semata (hanya wajar menggunakan dua kaki untuk berjalan), daerah pinggul dan tulang punggung juga cenderung menjadi rapuh, menyebabkan kesulitan dalam bergerak pada usia lanjut. Juga, manusia perempuan menderita kerumitan melahirkan anak yang relatif (kesakitan karena melahirkan hingga 24 jam tidaklah umum). Sebelum abad ke-20, melahirkan merupakan siksaan berbahaya bagi beberapa wanita, dan masih terjadi di beberapa lokasi terpencil atau daerah yang tak berkembang di dunia saat ini.
[sunting] Ciri-ciri Mental

Banyak manusia menganggap dirinya organisme terpintar dalam kerajaan hewan, meski ada perdebatan apakah cetaceans seperti lumba-lumba dapat saja mempunyai intelektual sebanding. Tentunya, manusia adalah satu-satunya hewan yang terbukti berteknologi tinggi. Manusia memiliki perbandingan massa otak dengan tubuh terbesar di antara semua hewan besar (Lumba-lumba memiliki yang kedua terbesar; hiu memiliki yang terbesar untuk ikan; dan gurita memiliki yang tertinggi untuk invertebrata). Meski bukanlah pengukuran mutlak (sebab massa otak minimum penting untuk fungsi "berumahtangga" tertentu), perbandingan massa otak dengan tubuh memang memberikan petunjuk baik dari intelektual relatif. (Carl Sagan, The Dragons of Eden, 38)

Kemampuan manusia untuk mengenali bayangannya dalam cermin, merupakan salah satu hal yang jarang di temui dalam kerajaan hewan. Manusia adalah satu dari empat spesies yang lulus tes cermin untuk pengenalan pantulan diri - yang lainnya adalah simpanse, orang utan, dan lumba-lumba. Pengujian membuktikan bahwa sebuah simpanse yang sudah bertumbuh sempurna memiliki kemampuan yang hampir sama dengan seorang anak manusia berumur empat tahun untuk mengenali bayangannya di cermin.

Pengenalan pola (mengenali susunan gambar dan warna serta meneladani sifat) merupakan bukti lain bahwa manusia mempunyai mental yang baik.

Kemampuan mental manusia dan kepandaiannya, membuat mereka, menurut Pascal, makhluk tersedih di antara semua hewan. Kemampuan memiliki perasaan, seperti kesedihan atau kebahagiaan, membedakan mereka dari organisme lain, walaupun pernyataan ini sukar dibuktikan menggunakan tes hewan. Keberadaan manusia, menurut sebagian besar ahli filsafat, membentuk dirinya sebagai sumber kebahagiaan.

Lihat pula Berpikir, IQ, Ingatan, Penemuan, IPA, Filsafat, Pengetahuan, Pendidikan, Kesadaran
[sunting] Habitat

Pandangan konvesional dari evolusi manusia menyatakan bahwa manusia berevolusi di lingkungan dataran sabana di Afrika. (lihat Evolusi manusia). Teknologi yang disalurkan melalui kebudayaan telah memungkinkan manusia untuk mendiami semua benua dan beradaptasi dengan semua iklim. Dalam beberapa dasawarsa terakhir, manusia telah dapat mendiami sementara benua Antartika, mendiami kedalaman samudera, dan ruang angkasa, meskipun pendiaman jangka panjang di lingkungan tersebut belum termasuk sesuatu yang hemat. Manusia, dengan populasi kurang lebih enam milyar jiwa, adalah salah satu dari mamalia terbanyak di dunia.

Sebagian besar manusia (61%) berkediaman di daerah Asia. Mayoritas sisanya berada di Amerika (14%), Afrika (13%) dan Eropa (12%), dengan hanya 0.3% di Australia.

Gaya hidup asli manusia adalah pemburu dan pengumpul, yang diadaptasikan ke sabana, adegan yang disarankan dalam evolusi manusia. Gaya hidup manusia lainnya adalah nomadisme (berpindah tempat; kadang-kadang dihubungkan dengan kumpulan hewan) dan perkampungan menetap yang dimungkinkan oleh pertanian yang baik. Manusia mempunyai daya tahan yang baik untuk memindahkan habitat mereka dengan berbagai alasan, seperti pertanian, pengairan, urbanisasi dan pembangunan, serta kegiatan tambahan untuk hal-hal tersebut, seperti pengangkutan dan produksi barang.

Perkampungan manusia menetap bergantung pada kedekatannya dengan sumber air dan, bergantung pada gaya hidup, sumber daya alam lainnya seperti lahan subur untuk menanam hasil panen dan menggembalakan ternak atau, sesuai dengan musim tersedianya mangsa/makanan. Dengan datangnya infrastruktur perdagangan dan pengangkutan skala besar, kedekatan lokasi dengan sumber daya tersebut telah menjadi tak terlalu penting, dan di banyak tempat faktor ini tak lagi merupakan daya pendorong bertambah atau berkurangnya populasi.

Habitat manusia dalam sistem ekologi tertutup di lingkungan yang tidak akrab dengannya (Antartika, angkasa luar) sangatlah mahal dan umumnya mereka tak dapat tinggal lama, dan hanya untuk tujuan ilmiah, militer, atau ekspedisi industri. Kehidupan di angkasa sangatlah sporadis, dengan maksimal tiga belas manusia di ruang angkasa pada waktu tertentu. Ini adalah akibat langsung dari kerentanan manusia terhadap radiasi ionisasi. Sebelum penerbangan angkasa Yuri Gagarin tahun 1961, semua manusia 'terkurung' di Bumi. Di antara tahun 1969 dan 1974, telah ada dua manusia sekaligus yang menghabiskan waktu singkatnya di Bulan. Sampai tahun 2004, tak ada benda angkasa lain telah dikunjungi manusia. Sampai tahun 2004, telah ada banyak keberadaan manusia di ruang angkasa berkelanjutan sejak peluncuran kru perdana untuk meninggali Stasiun Luar Angkasa Internasional, pada 31 Oktober 2000.
[sunting] Populasi

Dalam kurun waktu 200 tahun dari 1800 sampai 2000, populasi dunia telah bertambah pesat dari satu hingga enam milyar. Diperkirakan mencapai puncaknya kira-kira sepuluh milyar selama abad ke-21. Sampai 2004, sebuah minoritas yang cukup besar — sekitar 2.5 dari jumlah 6.3 milyar jiwa — tinggal di sekeliling daerah perkotaan. Urbanisasi diperkirakan akan melonjak drastis selama abad ke-21. Polusi, kriminal dan kemiskinan hanyalah beberapa contoh dari masalah yang dihadapi oleh manusia yang tinggal di kota dan pemukiman pinggiran kota.
[sunting] Asal Mula

Artikel utama: Evolusi manusia

Hewan terdekat dengan manusia yang masih bertahan hidup adalah simpanse; kedua terdekat adalah gorila dan ketiga adalah orang utan. Sangat penting untuk diingat, namun, bahwa manusia hanya mempunyai persamaan populasi nenek moyang dengan hewan ini dan tidak diturunkan langsung dari mereka. Ahli biologi telah membandingkan serantaian pasangan dasar DNA antara manusia dan simpanse, dan memperkirakan perbedaan genetik keseleruhan kurang dari 5% [2]. Telah diperkirakan bahwa garis silsilah manusia bercabang dari simpanse sekitar 5 juta tahun lalu, dan dari gorila sekitar 8 juta tahun lalu. Namun, laporan berita terbaru dari tengkorak hominid berumur kira-kira 7 juta tahun sudah menunjukkan percabangan dari garis silsilah kera, membuat gagasan kuat adanya percabangan awal silsilah tersebut.

Berikut beberapa gejala penting dalam evolusi manusia:

* perluasan rongga otak dan otak itu sendiri, yang umumnya sekitar 1,400 cm³ dalam ukuran volumnya, dua kali lipat perluasan otak simpanse dan gorila. Beberapa ahli antropologi, namun, mengatakan bahwa alih-alih perluasan otak, penyusunan ulang struktur otak lebih berpengaruh pada bertambahnya kecerdasan.
* pengurangan gigi taring.
* penggerak bipedal (dua kaki)
* perbaikan laring / pangkal tenggorokan (yang memungkinkan penghasilan bunyi kompleks atau dikenal sebagai bahasa vokal).

Bagaimana gejala-gejala ini berhubungan, dengan cara apa mereka telah menyesuaikan diri, dan apa peran mereka dalam evolusi organisasi sosial dan kebudayaan kompleks, merupakan hal-hal penting dalam perdebatan yang berlangsung di antara para ahli antropologi ragawi saat ini.

Selama tahun 1990an, variasi dalam DNA mitochondria manusia diakui sebagai sumber berharga untuk membangun ulang silsilah manusia dan untuk melacak perpindahan manusia awal. Berdasarkan perhitungan-perhitungan ini, nenek moyang terakhir yang serupa manusia modern diperkirakan hidup sekitar 150 milenium lalu, dan telah berkembang di luar Africa kurang dari 100.000 tahun lalu. Australia dijelajahi relatif awal, sekitar 70.000 tahun lalu, Eropa +/- 40.000 tahun lalu, dan Amerika pertama didiami secara kasarnya 30.000 tahun lalu, serta kolonisasi kedua di sepanjang Pasifik +/- 15.000 tahun lalu (lihat Perpindahan manusia).

Macam-macam kelompok agama telah menyatakan keberatan atas teori evolusi umat manusia dari sebuah nenek moyang bersama dengan hominoid lainnya. Alhasil, muncullah berbagai perbedaan pendapat, percekcokan, dan kontroversi. Lihat penciptaan, argumen evolusi, dan desain kepandaian untuk melihat pola pikir yang berlawanan.
[sunting] Kerohanian dan Agama

Bagi kebanyakan manusia, kerohanian dan agama memainkan peran utama dalam kehidupan mereka. Sering dalam konteks ini, manusia tersebut dianggap sebagai "orang manusia" terdiri dari sebuah tubuh, pikiran, dan juga sebuah roh atau jiwa yang kadang memiliki arti lebih daripada tubuh itu sendiri dan bahkan kematian. Seperti juga sering dikatakan bahwa jiwa (bukan otak ragawi) adalah letak sebenarnya dari kesadaran (meski tak ada perdebatan bahwa otak memiliki pengaruh penting terhadap kesadaran). Keberadaan jiwa manusia tak dibuktikan ataupun ditegaskan; konsep tersebut disetujui oleh sebagian orang dan ditolak oleh lainnya. Juga, adalah perdebatan di antara organisasi agama mengenai benar/tidaknya hewan memiliki jiwa; beberapa percaya mereka memilikinya, sementara lainnya percaya bahwa jiwa semata-mata hanya milik manusia, serta ada juga yang percaya akan jiwa kelompok yang diadakan oleh komunitas hewani dan bukanlah individu. Bagian ini akan merincikan bagaimana manusia diartikan dalam istilah kerohanian, serta beberapa cara bagaimana definisi ini dicerminkan melalui ritual dan agama.
[sunting] Animisme

Animisme adalah kepercayaan bahwa obyek dan gagasan termasuk hewan, perkakas, dan fenomena alam mempunyai atau merupakan ekspresi roh hidup. Dalam beberapa pandangan dunia animisme yang ditemukan di kebudayaan pemburu dan pengumpul, manusia sering dianggap (secara kasarnya) sama dengan hewan, tumbuhan, dan kekuatan alam. Sehingga, secara moral merupakan kewajiban untuk memperlakukan benda-benda tersebut secara hormat. Dalam pandangan dunia ini, manusia dianggap sebagai penghuni, atau bagian, dari alam, bukan sebagai yang lebih unggul atau yang terpisah darinya. Dalam kemasyarakatan ini, ritual / upacara agama dianggap penting untuk kelangsungan hidup, karena dapat memenangkan kemurahan hati roh-roh sumber makanan tertentu, roh tempat bermukim, dan kesuburan serta menangkis roh berhati dengki. Dalam ajaran animisme yang berkembang, seperti Shinto, ada sebuah makna yang lebih mendalam bahwa manusia adalah sebuah tokoh istimewa yang memisahkan mereka dari segenap benda dan hewan, sementara masih pula menyisakan pentingnya ritual untuk menjamin keberuntungan, panen yang memuaskan, dan sebagainya.

Kebanyakan sistem kepercayaan animisme memegang erat konsep roh abadi setelah kematian fisik. Dalam beberapa sistem, roh tersebut dipercaya telah beralih ke suatu dunia yang penuh dengan kesenangan, dengan panen yang terus-menerus berkelimpahan atau bahkan permainan yang berlebih-lebih. Sementara di sistem lain (misal: agama Nawajo), roh tinggal di bumi sebagai hantu, seringkali yang berwatak buruk. Kemudian tersisa sistem lain yang menyatukan kedua unsur ini, mempercaya bahwa roh tersebut harus berjalan ke suatu dunia roh tanpa tersesat dan menggeluyur sebagai hantu. Upacara pemakaman, berkabung dan penyembahan nenek moyang diselenggarakan oleh sanak yang masih hidup, keturunannya, sering dianggap perlu untuk keberhasilan penyelesaian perjalanan tersebut.

Ritual dalam kebudayaan animisme sering dipentaskan oleh dukun atau imam (cenayang), yang biasanya tampak kesurupan tenaga roh, lebih dari atau di luar pengalaman manusia biasa.

Pemraktekan tradisi penyusutan kepala sebagaimana ditemukan di beberapa kebudayaan, berasal dari sebuah kepercayaan animisme bahwa seorang musuh perang, jika rohnya tak terperangkap di kepala, dapat meloloskan diri dari tubuhnya dan, setelah roh itu berpindah ke tubuh lain, mengambil bentuk hewan pemangsa dan pembalasan setimpal.
[sunting] Mistikme

Barangkali merupakan praktek kerohanian dan pengalaman, tetapi tidak harus bercampur dengan theisme atau lembaga agama lain yang ada di berbagai masyarakat. Pada dasarnya gerakan mistik termasuk Vedanta, Yoga, Buddhisme awal (lihat pula Kerajaan manusia), tradisi memuja Eleusis, perintah mistik Kristiani dan pengkhotbah seperti Meister Eckhart, dan keislaman Sufisme. Mereka memusatkan pada pengalaman tak terlukiskan, dan kesatuan dengan supranatural (lihat pencerahan, kekekalan). Dalam mistikme monotheis, pengalaman mistik memfokuskan kesatuan dengan Tuhan.
[sunting] Politheisme

Konsep dewa sebagai makhluk yang sangat kuat kepandaiannya atau supernatural, kebanyakan dikhayalkan sebagai anthropomorfik atau zoomorfik, yang ingin disembah atau ditentramkan oleh manusia dan ada sejak permulaan sejarah, dan kemungkinan digambarkan pada kesenian Zaman Batu pula. Dalam masa sejarah, tatacara pengorbanan berevolusi menjadi adat agama berhala dipimpin oleh kependetaan (misal: agama Vedik, (pemraktekan kependetaan berkelanjutan dalam Hinduisme, yang namun telah mengembangkan teologi monotheis, seperti penyembahan berhala theisme monistik, Mesir, Yunani, Romawi dan Jerman). Dalam agama tersebut, manusia umumnya diciri-cirikan dengan kerendahan mutunya kepada dewa-dewa, kadang-kadang dicerminkan dalam masyarakat berhirarki diperintah yang oleh dinasti-dinasti yang menyatakan keturunan sifat ketuhanan/kedewaan. Dalam agama yang mempercayai reinkarnasi, terutama Hinduisme, tak ada batasan yang kedap di antara hewan, manusia, dan dewa, karena jiwa dapat berpindah di seputar spesies yang berbeda tanpa kehilangan identitasnya.
[sunting] Monotheisme

Gagasan dari suatu Tuhan tunggal yang menggabungkan dan malampaui semua dewa-dewa kecil tampak berdiri sendiri dalam beberapa kebudayaan, kemungkinan terwujud pertama kali dalam bida’ah / klenik Akhenaten (lebih dikenal sebagai Henotheisme, tahap umum dalam kemunculan Monotheisme). Konsep dari kebaikan dan kejahatan dalam sebuah pengertian moral timbul sebagai sebuah konsekuensi Tuhan tunggal sebagai otoritas mutlak.

Dalam agama Yahudi, Tuhan adalah pusat dalam pemilihan orang Yahudi sebagai rakyat, dan dalam Kitab Suci Yahudi, takdir komunitas dan hubungannya dengan Tuhan mempunyai hak istimewa yang jelas (harus diutamakan) di atas takdir individu.

Kekristenan bertumbuh keluar dari agama Yahudi dengan menekankan takdir individual, khususnya setelah kematian, dan campur tangan pribadi Tuhan dengan adanya inkarnasi, yaitu dengan menjadi manusia selama sementara.

Islam, walaupun menolak kepercayaan kristiani untuk Tritunggal dan inkarnasi ketuhanan, sangatlah mirip dengan Kekristenan dalam melihat manusia sebagai wali/wakil dari Tuhan dan satu-satunya makhluk inkarnasi yang memiliki kehendak bebas (atau dapat berdosa) atau melakukan hal yang bertentangan dengan alam. Julukan yang diberikan kepada manusia dalam Islam adalah Bani Adam.

Dalam semua agama Abraham, manusia adalah penguasa, atau pengurus, di atas seluruh muka Bumi dan semua makhluk lain, sedikit lebih rendah daripada malaikat (lihat Rantaian Makhluk-Makhluk), dan memiliki moral hati nurani yang unik. Hinduisme, juga belakangan mengembangkan teologi monotheis seperti theisme monistik, yang berbeda dari pikiran Barat mengenai monotheis.

Agama monotheistik mempunyai kemiripan dalam kepercayaan bahwa umat manusia diciptakan oleh Tuhan, diikat oleh kewajiban kasih sayang, dan dirawat oleh pemeliharaan baik kaum / pihak ayah.
[sunting] Sang Individu

Manusia individu adalah subyek yang mengalami kondisi manusia. Ini diikatkan dengan lingkungannya melalui indera mereka dan dengan masyarakat melalui kepribadian mereka, jenis kelamin mereka serta status sosial. Selama kehidupannya, ia berhasil melalui tahap bayi, kanak-kanak, remaja, kematangan dan usia lanjut. Deklarasi universal untuk hak asasi diadakan untuk melindungi hak masing-masing individu.
[sunting] Hati dan kesadaran

Pengalaman subyektif dari seorang individu berpusat di sekitar kesadarannya, kesadaran-diri atau pikiran, memperbolehkan adanya persepsi eksistensinya sendiri dan dari perjalanan waktu. Kesadaran memberikan naiknya persepsi akan kehendak bebas, meskipun beberapa percaya bahwa kehendak bebas sempurna adalah khayalan yang menyesatkan, dibatasi atau dilenyapkan oleh penentuan takdir atau sosial atau biologis. Hati manusia diperluas ke luar kesadaran, mencakup total aspek mental dan emosional individu. Ilmu pengetahuan psikologi mempelajari hati manusia (psike), khususnya alam bawah sadar (tak sadar). Praktek psikoanalisis yang dirancang oleh Sigmund Freud mencoba menyingkap bagian dari alam bawah sadar. Freud menyusun diri manusia menjadi Ego, Superego, dan Id. Carl Gustav Jung memperkenalkan pemikiran alam bawah sadar kolektif / bersama dan sebuah proses pengindividuan, menuangkan keragu-raguan untuk ketepatan pendefinisian individu ‘yang dapat diartikan’.
[sunting] Emosi

Individu manusia terbuka terhadap emosi yang besar mempengaruhi keputusan serta tingkah laku mereka. Emosi menyenangkan seperti cinta atau sukacita bertentangan dengan emosi tak menyenangkan seperti kebencian, cemburu, iri hati atau sakit hati.
[sunting] Seksualitas

Seksualitas manusia, di samping menjamin reproduksi, mempunyai fungsi sosial penting, membuat ikatan / pertalian dan hirarki di antara individu. Hasrat seksual dialami sebagai sebuah dorongan / keinginan badani, sering disertai dengan emosi kuat positif (seperti cinta atau luapan kegembiraan) dan negatif (seperti kecemburuan / iri hati atau kebencian).
[sunting] Tubuh

penampilan fisik tubuh manusia adalah pusat kebudayaan dan kesenian. Dalam setiap kebudayaan manusia, orang gemar memperindah tubuhnya, dengan tato, kosmetik, pakaian, perhiasan atau ornamen serupa. Model rambut juga mempunyai pengertian kebudayaan penting. Kecantikan atau keburukan rupa adalah kesan kuat subyektif dari penampilan seseorang.

Kebutuhan individu terhadap makanan dan minuman teratur secara jelas tercermin dalam kebudayaan manusia (lihat pula ilmu makanan). Kegagalan mendapatkan makanan secara teratur akan berakibat rasa lapar dan pada akhirnya kelaparan (lihat juga malnutrisi).

Rata-rata waktu tidur (dengan nilai minimal) adalah 8 jam per hari untuk dewasa dan 10 jam untuk anak-anak. Orang yang lebih tua biasanya tidur selama 6 jam. Sudah umum, namun, dalam masyarakat modern bagi orang-orang untuk mendapat waktu tidur kurang dari yang mereka butuhkan.

Tubuh manusia diancam proses penuaan dan penyakit. Ilmu pengobatan adalah ilmu pengetahuan yang menelusuri metode penjagaan kesehatan tubuh.
[sunting] Kelahiran dan kematian

Kehidupan subyektif individu berawal pada kelahirannya, atau dalam fase kehamilan terdahulu, selama janin berkembang di dalam tubuh ibu. Kemudian kehidupan berakhir dengan kematian individu. Kelahiran dan kematian sebagai peristiwa luar biasa yang membatasi kehidupan manusia, dapat mempunyai pengaruh hebat terhadap individu tersebut. Kesulitan selama melahirkan dapat berakibat trauma dan kemungkinan kematian dapat menyebabkan rasa keberatan (tak mudah) atau ketakutan (lihat pula pengalaman hampir meninggal). Upacara penguburan adalah ciri-ciri umum masyarakat manusia, sering diinspirasikan oleh kepercayaan akan adanya kehidupan setelah kematian. Adat kebiasaan warisan atau penyembahan nenek moyang dapat memperluas kehadiran sang individu di luar rentang usia fisiknya. (lihat kekekalan).
[sunting] Masyarakat

Meskipun banyak spesies berprinsip sosial, membentuk kelompok berdasarkan ikatan / pertalian genetik, perlindungan-diri, atau membagi pengumpulan makanan dan penyalurannya, manusia dibedakan dengan rupa-rupa dan kemajemukan dari adat kebiasaan yang mereka bentuk entah untuk kelangsungan hidup individu atau kelompok dan untuk pengabadian dan perkembangan teknologi, pengetahuan, serta kepercayaan. Identitas kelompok, penerimaan dan dukungan dapat mendesak pengaruh kuat pada tingkah laku individu, tetapi manusia juga unik dalam kemampuannya untuk membentuk dan beradaptasi ke kelompok baru.

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menjelaskan interaksi antar manusia.
[sunting] Bahasa

Kecakapan berpidato adalah sebuah unsur pendefinisian umat manusia, mungkin mendahului pemisahan populasi modern filogenetik (lihat Asal usul bahasa). Bahasa adalah pusat dari komunikasi antar manusia. Kata Yahudi untuk "binatang" (behemah) berarti "bisu", menggambarkan manusia sebagai "binatang berbicara" (kepandaian bercakap hewani). Bahasa adalah pusat dari sentuhan identitas ‘khas’ berbagai kebudayaan atau kesukuan dan sering diceritakan mempunyai status atau kekuatan supernatural (lihat Sihir / Gaib, Mantra, Vac). Penemuan sistem penulisan sekitar 5000 tahun lalu, yang memungkinkan pengabadian ucapan, merupakan langkah utama dalam evolusi kebudayaan. Ilmu pengetahuan Linguistik (ilmu bahasa) menjelaskan susunan bahasa, dan keterkaitan antara bahasa-bahasa berbeda. Diperkirakan ada 6000 bahasa yang diucapkan manusia saat ini. Manusia yang kekurangan kemampuan berkomunikasi melalui ucapan, umumnya bercakap-cakap menggunakan Bahasa Isyarat.
[sunting] Agama

Dalam setiap kebudayaan manusia, kerohanian dan ritual mendapat ekspresi dalam bentuk tertentu. Elemen-elemen ini dapat menggabungkan secara penting pengalaman pribadi dengan pengalaman penyatuan dan komunal, seringkali membangkitkan emosi yang sangat kuat dan bahkan luapan kegembiraan. Kekuatan pengikat yang kuat dari pengalaman tertentu dapat kadang-kadang menimbulkan kefanatikan atau agresi kepada manusia lain yang tidak termasuk dalam kelompok agamanya, berakibat perpecahan atau bahkan perang. Teokrasi adalah masyarakat yang dibentuk secara dominan oleh agama, diperintah oleh pemimpin suci atau oleh seorang pemuka agama. Agama dapat pula berperilaku sebagai alat penyaluran dan pengaruh dari norma budaya dunia dan tingkah laku yang wajar dilakukan manusia.
[sunting] Keluarga dan teman sepergaulan

Individu manusia dibiasakan untuk bertumbuh menjadi seorang pelengkap yang berjiwa kuat ke dalam suatu kelompok kecil, umumnya termasuk keluarga biologis terdekatnya, ibu, ayah dan saudara kandung.

Sebagai seorang pelengkap berjiwa kuat yang serupa dapat dikelirukan dengan suatu kelompok kecil yang sama, yaitu teman sepergaulan sebaya sang individu, umumnya berukuran antara sepuluh hingga dua puluh individu, kemungkinan berkaitan dengan ukuran optimal untuk gerombolan pemburu. Dinamika kelompok dan tekanan dari teman dapat mempengaruhi tingkah laku anggotanya.

Seorang individu akan mengembangkan perasaan kesetiaan yang kuat kepada kelompok tertentu. Kelakuan manusia yang wajar termasuk seringnya hubungan sosial, dinyatakan dalam obrolan / percakapan, dansa, menyanyi atau cerita (dikenal dengan curhat).
[sunting] Suku, bangsa dan negara bagian

Kelompok manusia yang lebih besar dapat disatukan dengan gagasan kesamaan nenek moyang (suku, etnis) atau kesamaan fokus budaya atau materi (bangsa atau negara bagian), sering dibagi lebih lanjut menurut struktur kelas sosial dan hirarki. Sebuah suku dapat terdiri dari beberapa ratus individu, sementara negara bagian modern terbesar berisi lebih dari semilyar. Konflik kekerasan di antara kelompok-kelompok besar disebut peperangan. Kesetiaan / pengabdian untuk kelompok yang besar seperti ini disebut nasionalisme atau patriotisme. Dalam keekstriman, perasaan pengabdian terhadap sebuah lembaga atau kewenangan dapat mencapai keekstriman pathologi, yang berakibat hysteria massa (gangguan syaraf) atau fasisme.

Antropologi budaya menjelaskan masyarakat manusia yang berbeda-beda, dan sejarah mencatat interaksi mereka berikut kesuksesan yang dialami. Organisasi dan pemerintahan bentuk modern dijelaskan oleh Ilmu Politik dan Ekonomi.
[sunting] Kebudayaan dan peradaban

Sebuah peradaban adalah sebuah masyarakat yang telah mencapai tingkat kerumitan tertentu, umumnya termasuk perkotaan dan pemerintahan berlembaga, agama, iptek, sastra serta filsafat. Perkotaan paling awal di dunia ditemukan di dekat rute perdagangan penting kira-kira 10.000 tahun lalu (Yeriko, Çatalhöyük). Kebudayaan manusia dan ekspresi seni mendahului peradaban dan dapat dilacak sampai ke palaeolithik (lukisan goa, arca Venus, tembikar / pecah belah dari tanah). Kemajuan pertanian memungkinkan transisi dari masyarakat pemburu dan pengumpul atau nomadik menjadi perkampungan menetap sejak Milenium ke-9 SM. Penjinakan hewan menjadi bagian penting dari kebudayaan manusia (anjing, domba, kambing, lembu). Dalam masa sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi telah berkembang bahkan lebih pesat (lihat Sejarah iptek).
[sunting] Renungan diri

Umat manusia selalu mempunyai perhatian yang hebat akan dirinya sendiri. Kecakapan manusia untuk mengintrospeksi diri, keinginan individu untuk menjelajahi lebih mengenai intisari diri mereka, tanpa terkecuali menghasilkan berbagai penyelidikan mengenai kondisi manusia merupakan pokok jenis manusia secara keseluruhan. Renungan diri adalah dasar dari filsafat dan telah ada sejak awal pencatatan sejarah. Artikel ini misalnya, karena ditulis oleh manusia, dengan sendirinya tak dapat luput dari contoh refleksi diri.

Manusia kerap menganggap dirinya sebagai spesies dominan di Bumi, dan yang paling maju dalam kepandaian dan kemampuannya mengelola lingkungan. Kepercayaan ini khususnya sangat kuat dalam kebudayaan Barat, dan berasal dari bagian dalam cerita penciptaan di Alkitab yang mana Adam secara khusus diberikan kekuasaan atas Bumi dan semua makhluk. Berdampingan dengan anggapan kekuasaan manusia, kita sering menganggap ini agak radikal karena kelemahan dan singkatnya kehidupan manusia (Dalam Kitab Suci Yahudi, misalnya, kekuasaan manusia dijanjikan dalam Kejadian 1:28, tetapi pengarang kitab Pengkhotbah meratapi kesia-siaan semua usaha manusia).

Ahli filsafat Yahudi, Protagoras telah membuat pernyataan terkenal bahwa "Manusia adalah ukuran dari segalanya; apa yang benar, benarlah itu; apa yang tidak, tidaklah itu". Aristotle mendeskripsikan manusia sebagai "hewan komunal" (ζωον πολιτικον), yaitu menekankan pembangunan masyarakat sebagai pusat pembawaan alam manusia, dan "hewan dengan sapien" (ζωον λογον εχων, dasar rasionil hewan), istilah yang juga menginspirasikan taksonomi spesies, Homo sapiens.

Pandangan dunia dominan pada abad pertengahan Eropa berupa keberadaan manusia yang diciri-cirikan oleh dosa, dan tujuan hidupnya adalah untuk mempersiapkan diri terhadap pengadilan akhir setelah kematian. Pencerahan / pewahyuan digerakkan oleh keyakinan baru, bahwa, dalam perkataan Immanuel Kant, "Manusia dibedakan di atas semua hewan dengan kesadaran-dirinya, yang mana ia adalah 'hewan rasionil'". Pada awal abad ke-20, Sigmund Freud melancarkan serangan serius kepada positivisme mendalilkan bahwa kelakuan manusia mengarah kepada suatu bagian besar yang dikendalikan oleh pikiran bawah sadar.

Dari titik pandang ilmiah, Homo sapiens memang berada di antara spesies yang paling tersama-ratakan di Bumi, dan hanya ada sejumlah kecil spesies tunggal yang menduduki lingkungan beraneka-ragam sebanyak manusia. Rupa-rupa usaha telah dibuat untuk mengidentifikasikan sebuah ciri-ciri kelakuan tunggal yang membedakan manusia dari semua hewan lain, misal: Kemampuan untuk membuat dan mempergunakan perkakas, kemampuan untuk mengubah lingkungan, bahasa dan perkembangan struktur sosial majemuk. Beberapa ahli antropologi berpikiran bahwa ciri-ciri yang siap diamati ini (pembuatan-perkakas dan bahasa) didasarkan pada kurang mudahnya mengamati proses mental yang kemungkinan unik di antara manusia: kemampuan berpikir secara simbolik, dalam hal abstrak atau secara logika. Adalah susah, namun, untuk tiba pada suatu kelompok atribut yang termasuk semua manusia, dan hanya manusia, dan harapan untuk menemukan ciri-ciri unik manusia yang adalah masalah dari renungan-diri manusia lebih daripada suatu masalah zoologi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Manusia

Proses Pembuatan Tempe

Sediakan kedele 1 kg Kedele dipilah-pilah, buang kedele yang rusak/busuk Setelah selesai kedelai kemudian direndam semalam Selanjutnya, buang air rendaman dan kedelai dicuci bersih Rebus sampai mendidih kedelai yang sudah selesai dicuci Lakukan perendaman kedelai, sekitar 12-24 jam. Lakukan pencucian dengan air mengalir Kemudian, kedelai dikelupas kulitnya sampai bersih Kedelai yang sudah selesai dikelupas, selanjutnya direbus sampai mendidih Setelah mendidih, kedelai didinginkan/ditiris. Setelah dingin benar, lakukan peragian, 1/2 sendok teh ragi untuk 1 kg kedele Selanjutnya tempe dibungkus, bisa dengan daun pisang atau plastik yang dilubangi dengan paku jarak +- 1 cm. Setelah dibungkus, lakukan proses fermentasi/pemeraman, 24 jam pertama ditutup rapat, lalu dibuka. Write your abstract here.
Diterbitkan di: Oktober 22, 2007

Proses desain kriya kayu

Disain, merupakan suatu proses yang dapat dikatakan seumur dengan keberadaan manusia di dunia. Hal ini, seringkali tidak kita disadari. Akibatnya, sebagian dari kita berpendapat seakan-akan disain baru dikenal sejak masa modem, dan merupakan bagian dari kehidupan modern. Selain itu, ada juga kerancuan pendapat yang berkait dengan siapa yang lebih berhak atas suatu proses disain. Banyak disainer mengatakan bahwa proses disain, sesuai dengan sebutannya, merupakan milik dari profesi disainer. Sebaliknya, para enjiner berpendapat demikian pula. Bagian ini, menjelaskan berbagai bahasan yang berkait dengan proses disain dan para pelakunya.

a. Manusia sebagai makhluk berakal
Manusia dikaruniai kemampuan sebagai makhluk hidup yang mempunyai akal. Sejak manusia Nadir di muka bumi, kemampuan akalnya terus berkembang. Kemampuan akal inilah yang memungkinkan manusia sebagai makhluk hidup dapat bertahan, berkembang, memperbaiki tingkat kehidupannya, dan bahkan memperbaiki lingkung kehidupannya. Sejak awal keberadaannya, manusia selalu berusaha untuk melengkapi dan memperbaiki pemenuhan kebutuhan hidupnya. Berbagai kebutuhan hidupnya itu, pada dasarnya dibagi menjadi :
1. Kebutuhan hidup yang bersifat utama dan sangat penting; disebut kebutuhan primer. Kebutuhan hidup yang dimasukkan ke dalam kategori ini, bersifat sama sekali tidak dapat ditinggalkan, dan mutlak harus dipenuhi; karena berkait langsung dengan mati-hidupnya manusia.  Jika kebutuhan hidup ini tidak dipenuhi, maka manusia tidak akan dapat mempertahankan hidupnya dan manusia akan mati. Bahkan, jika dalam skala yang lebih besar,
dapat berakibat manusia punah. Karenanya, dalam kehidupan manusia, kebutuhan hidup yang bersifat utama ini mempunyai prioritas tertinggi dan bersifat mutlak harus dipenuhi. Misalnya : pemenuhan kebutuhan makan dan minum.
2. Kebutuhan hidup yang bersifat tidak utama; disebut kebutuhan sekunder. Kebutuhan hidup yang termasuk ke dalam kategori ini, bersifat tidak berpengaruh secara langsung kepada mati-hidupnya manusia. Meskipun kebutuhan ini dapat dikatakan penting, tetapi jika kebutuhan hidup ini tidak dipenuhi, manusia masih dapat mempertahankan hidupnya, dan belum tentu akan mati (belum tentu akan punah). Karenanya, dalam kehidupan manusia, kebutuhan hidup yang bersifat tidak utama ini mempunyai prioritas sedang; dan bersifat tidak selalu mutlak harus dipenuhi. Misalnya : pemenuhan kebutuhan yang berkait dengan tempat tinggal, alas kaki, pelindung tubuh, pakaian, kemeja, senjata.
3. Kebutuhan hidup yang bersifat pelengkap hidup dan kesenangan; disebut kebutuhan tersier. Kebutuhan hidup yang termasuk ke dalam kategori ini, bersifat sama sekali tidak berpengaruh apapun terhadap hidup atau mati manusia. Jika kebutuhan hidup ini tidak dipenuhi, tidak ada pengaruhnya terhadap hidup atau matinya manusia. Karenanya, dalam kehidupan manusia, kebutuhan hidup yang bersifat pelengkap hidup ini mempunyai prioritas terendah. Misalnya pemenuhan kebutuhan yang berkait dengan keindahan, tartan, musik, kesenian, permainan. Manusia sebagai makhluk yang berakal, pada tahap awalnya, selalu mengutamakan pemenuhan kebutuhan yang lebih mengarah kepada kebutuhan utama (primer). Tetapi pada tahap-tahap selanjutnya, sesuai dengan perkembangan jaman, teknologi, dan ilmu pengetahuan, serta tingkat kehidupannya; manusia lalu. berusaha melengkapi kebutuhan hidupnya dengan berbagai kebutuhan lainnya yang bersifat tidak penting (sekunder). Bahkan, akhirnya juga banyak memenuhi berbagai kebutuhan yang sama sekali tidak penting, yakni berbagai kebutuhan yang sebenarnya termasuk ke dalam kategori pelengkap kehidupan dan kesenangan semata. Semua ini, sesuai dengan sifat manusia itu sendiri, yang karena kemampuannya untuk menggunakan akalnya, manusia selalu berusaha untuk hidup dengan cara-cara yang lebih baik (dan juga lebih nyaman) dari sebelumnya. Adanya kemampuan akal, telah membuat manusia mampun berbuat lebih banyak dari waktuwaktu sebelumnya; yaitu memikirkan, merencanakan, dan membuat berbagai macam alat bantu yang sangat berguna bagi pemenuhan kebutuhan dan kesenangan hidup manusia.
Selama sejarah kehidupan manusia, telah dibuat berbagai macam alat, barang, dan benda pakai yang berkait dengan pemenuhan kebutuhan hidup manusia, yaitu kebutuhan hidup yang bersifat utama (kebutuhan primer), kebutuhan hidup yang bersifat tidak utama (kebutuhan sekunder), serta kebutuhan hidup yang sama sekali tidak penting dan hanya untuk memenuhi berbagai kesenangan saja (kebutuhan tersier). Semua itu, pada dasarnya dilakukan manusia dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup manusia, memudahkan berbagai kegiatan manusia, dan menyenangkan hidup manusia. Seluruh proses ini, yaitu sejak dimulai dengan memikirkan (sejak masih berupa gagas), kemudian direncanakan, dianalisis, dihitung, ditentukan, dicoba, dan akhimya dibuat; merupakan gabungan antara “proses perencanaan” (design process) dengan “proses pembuatan” (manufacturing process).
Dengan demikian, proses perencanaan dan proses pembuatan suatu produk tertentu adalah suatu proses yang dapat dikatakan relatif panjang dan tidak dapat dikatakan sebagai suatu proses yang sederhana. Kenyataannya, sering kita tercengang dan tidak menyangka, bahwa suatu barang atau benda yang terlihat relatif sederhana bentuknya; yang dalam kehidupan kita sehari-hari pada masa sekarang kita gunakan sebagai kelengkapan hidup yang kurang penting perannya; jika kita telusuri cara dan proses pembuatannya, termasuk sejarahnya; temyata mempunyai proses yang sangat panjang, berbelit-belit, serta menggunakan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, untuk membuatnya. Contoh bendapakai sederhana yang dimaksudkan ini, misalnya : kancing baju, pinsil, jarum, kertas, kartu telepon, sikat gigi, botol, ball point, kancing tank (retsluiting), dan sebagainya. Jika dicermati lebih teliti, benda-benda tersebut meskipun sangat sederhana, seringkali melibatkan berbagai jenis teknologi (bahkan mungkin menggunakan teknologi paling mutakhir) untuk bisa mewujutkannya.
Karena adanya berbagai proses yang diperlukan untuk muwujudkan sebuah benda/produk, maka setiap barang, produk, atau benda buatan manusia, umumnya selalu mempunyai “sejarah” (yang kemudian lebih dikenal sebagai “sejarah disain” dari suatu produk) yang berbeda-beda. Dan bentuk, hasil, dan sejarahnya, sebuah barang atau benda buatan manusia dapat ditelusuri kembali, bagaimana barang atau benda tersebut dibuat. Bahkan berdasar analisis menggunakan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, akhirnya dapat juga diketahui berbagai sifat dan lingkung manusia yang membuat barang atau benda tersebut. Pada penyelidikan dan penggalian lokasi-lokasi (situs) prasejarah; penemuan berbagai bentuk barang dan benda buatan manusia, dapat digunakan untuk menentukan tinggi-rendahnya tingkat kebudayaan, serta tinggirendah tingkat penguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan oleh suatu kelompok masyarakat tertentu.
b. Manusia, dan disain
Pada jaman dahulu kala, memang belum dikenal adanya istilah “disain”. Tetapi, proses disain itu sendiri, sebenarnya sudah ada sejak jaman purbakala. Yaitu, sejak manusia mulai berusaha membuat berbagai peralatan untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Usaha untuk membuat berbagai peralatan itu, secara umum merupakan bagian dari “kebudayaan manusia”. Dari berbagai telaah, juga dapat dibuktikan bahwa tinggi-rendahnya tingkat kebudayaan suatu kelompok masyarakat tertentu, juga menentukan tinggi-rendahnya tingkat kemampuan untuk melakukan proses disain secara keseluruhan. Karena tinggirendahnya tingkat kebudayaan manusia didasarkan kepada kemampuan manusia untuk belajar, maka faktor pendidikan juga merupakan suatu faktor yang sangat penting. Adanya kemampuan akal pada manusia, membuat manusia secara sadar atau tidak sadar, selalu “belajar” dan menambah khazanah pengetahuannya. Segala sesuatu yang harus dipelajari lebih dahulu oleh manusia untuk dapat dilakukan, lazim disebut “kebudayaan” (culture). Sedangkan peri laku manusia itu sendiri, akhimya merupakan suatu bentuk “budaya”.
Dalam perkembangan selanjutnya, secara umum manusia akhirnya juga mengenal adanya dua sifat budaya, yakni “budaya yang bersifat relatif baik” (budaya baik) dan “budaya yang bersifat relatif buruk” (budaya buruk). Perbedaan sifat di antara kedua macam bentuk budaya itu, sebenarnya sangat relatif. Pada suatu kelompok masyarakat tertentu, “budaya baik”, mungkin dapat berarti suatu “budaya buruk” bagi kelompok masyarakat lainnya. Demikian pula, sebaliknya. Tetapi, tentu saja tidak tertutup adanya kemungkinan bentuk budaya yang sifatnya sama dan berlaku secara universal bagi beberapa kelompok masyarakat. Pemahaman akan hal ini, merupakan salah satu hal yang sangat penting, dan pada saatnya nanti (yakni pada saat perencana melaksanakan proses disain), harus menjadi salah satu perhatian utama perencana. Pada bahasan selanjutnya, akan dijelaskan mengapa hal ini menjadi sangat penting.
Perkembangan tata kehidupan, letak geografis, adat-istiadat, tradisi, aturan, tata krama, hukum, kekerabatan, dan pranata yang hidup di dalam lingkung suatu kelompok masyarakat tertentu, seringkali menghasilkan suatu bentuk “budaya baik” dan “budaya buruk” yang sangat berbeda dan berlawanan dengan kelompok masyarakat lainnya. Bagi suatu kelompok masyarakat tertentu, “budaya baik” dan “budaya buruk” yang hidup di dalam kalangannya, dapat sangat bertentangan (berlawanan) dengan kelompok masyarakat lainnya. Seringkali, hal ini sedemikian berlawanan, sehingga jika kedua kelompok masyarakat itu dipersatukan atau dipertemukan, dapat menimbulkan gesekan (friksi) dan pertentangan yang hebat. Dengan demikian, budaya baik dan budaya buruk, dapat dikatakan menjadi bersifat sangat relatif. Hal ini, sangat penting untuk dipahami, karena dalam pembuatan dan penyampaian suatu produk tertentu, bagi suatu kelompok masyarakat tertentu, mungkin tidak menimbulkan masalah apaapa. Tetapi bagi kelompok masyarakat lainnya, mungkin produk tersebut merupakan hal yang ditabukan dan tidak dapat diterima. Sehingga dengan demikian, produk tersebut hanya dapat diterima pada suatu kelompok masyarakat tertentu saja.
Kebudayaan manusia yang kita kenal sekarang, merupakan suatu hasil dari perkembangan kebudayaan manusia selama berjuta juta tahun, yang berkembang secara perlahan-lahan dengan cars evolusi. Terjadinya berbagai perbedaan itu, lazimnya diakibatkan oleh adanya perbedaan bahasa, lokasi, geografi, cara berpikir, cara memandang, serta tinggi-rendahnya tingkat penguasaan teknologi, ilmu pengetahuan, dan erat-renggangnya tingkat hubungan sosial antara kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat lainnya.
c. Pengertian disain
Sejauh ini, kita belum membahas apa sebenamya yang dimaksud dengan “disain”. Istilah “disain” atau “desain” dalam ejaan bahasa Indonesia, berasal dari kata “design” dalam bahasa Inggris. Istilah disain, secara umum dapat berarti : potongan, model, moda, bentuk atau pola; konstruksi, rencana, mempunyai maksud, merencanakan; baik, bagus, atau indah bentuknya.
Istilah “disain”, dalam ejaan bahasa Indonesia, merupakan suatu istilah yang dituliskan berdasar bunyi pengucapan (pelafalan) kata “design ” dalam bahasa Inggris. Suku-kata “de” pada kata “design” dalam bahasa Inggris, umumnya diucapkan seperti mengucapkan sukukata Vi ” dalam bahasa Indonesia. Sedangkan suku-kata “sign” pada kata “design” dalam bahasa Inggris, umumnya diucapkan (dilafalkan) seperti mengucapkan suku-kata “sain” dalam bahasa Indonesia. Karenanya, istilah “design” dalam bahasa Inggris, kemudian dituliskan menjadi “disain ” dalam ejaan bahasa Indonesia, sesuai dengan bunyi pelafalannya.
Istilah “desain” dalam ejaan bahasa Indonesia, kelihatannya juga merupakan suatu istilah yang dituliskan berdasar bunyi pengucapan (pelafalan) kata “design” dalam bahasa Inggris, tetapi dengan sedikit perbedaan pada bunyi pengucapan (pelafalan) suku-kata “de” pada kata “design” dalam bahasa Inggris, yang dilafalkan dengan penekanan lebih banyak ke arah bunyi “e”, dari pada bunyi “i”. Karenanya, kemudian penulisannya dalam ejaan bahasa Indonesia, menjadi “desain”. Bagaimanapun juga, kedua istilah ini, yaitu istilah “disain” atau istilah “desain”, bermakna sama. Dalam buku ini, arti kedua istilah ini tidak dibedakan. Untuk selanjutnya, dalam buku ini digunakan istilah “disain”, dengan pengertian yang setara dengan “desain”. Kata “mendisain” atau “mendesain”, mempunyai pengertian yang secara umum setara dengan merancang, merencana, merancangbangun, atau mereka-yasa; yang artinya setara dengan istilah “to design” atau “designing” dalam bahasa Inggris. Istilah “mendisain” atau “mendesain”, mempunyai makna melakukan kegiatan (aktivitas, proses) untuk menghasilkan suatu “disain”.
Selain istilah “disain” atau “desain”, juga dikenal istilah “rencana “, “rancangan “, “rancangbangun “, dan “reka yasa ” dengan pengertian yang dapat dikatakan sama, setara, atau setidaktidaknya mendekati kesamaan. Beberapa di antara istilah-istilah ini, seringkali digunakan secara khas dalam bidang-bidang tertentu. Dalam hal ini, kegiatannya kemudian disebut dengan istilah “merencana”, “merancang”, “merancang-bangun”, dan “mereka-yasa”. Dalam bahasa Inggris juga dikenal adanya istilah “plan”, “to plan” dan “planning”; yang maknanya secara umum dapat dikatakan setara dengan istilah “design”, “to design”, dan “designing”; tetapi dalam pengertian yang lebih luas dan mencakup lebih banyak aspek. Dalam buku ini, untuk menghindarkan kerancuan makna, selanjutnya istilah “plan” dalam ejaan bahasa Inggris, dituliskan “plan” dalam ejaan bahasa Indonesia.
Jika dicermati lebih teliti, maka segera terasa bahwa terdapat semacam kesamaan makna antara istilah disain dan istilah plan. Kedua istilah tersebut, bermakna setara dengan rencana (hasil dari suatu proses merencana), rancangan (hasil dari proses merancang), reka yasa (hasil dari proses mereka-yasa), atau rancang-bangun (hasil dari proses merancang-bangun). Istilahistilah ini, semuanya menunjuk kepada “hasil dari suatu proses”, atau menunjuk kepada “sesuatu yang dihasilkan oleh suatu proses tertentu”. Meskipun demikian, kenyataannya dalam penggunaannya, terdapat perbedaan. Istilah “disain”, lebih banyak digunakan untuk menunjukkan suatu rencana atau hasil proses perencanaan yang bersifat mikro (kecil, khusus, sempit, khas, detail, rinci). Misalnya : rencana jembatan (bridge design), rencana jalan (road design), rencana rumah (house design), rencana interior (interior design), rencana produk (product design), rencana barang industri (industrial design), rencana kendaraan (automotive design), dan sebagainya. Sedangkan istilah “plan”, lebih banyak digunakan untuk menunjukkan suatu rencana atau hasil proses perencanaan yang bersifat makro (luas, umum, global, menyeluruh). Misalnya : rencana strategis (strategic plan), rencana utama (master plan), -rencana manajemen (management plan), rencana perusahaan (corporate plan), rencana proyek (project plan), rencana kota (city plan), dan sebagainya.
Dengan berpegang pada penjelasan di atas, maka lazimnya, sebuah plan (rencana makro, rencana global, rencana menyeluruh) dapat mencakup atau dapat disusun atas sejumlah disain (rencana mikro, rencana detail). Artinya, disain (rencana mikro) bisa merupakan bagian dari sebuah plan (rencana makro); tetapi bukan sebaliknya. Meskipun demikian, disain (rencana mikro) dapat juga bersifat berdiri sendiri, dan tidak berkait dengan sebuah plan (rencana makro) tertentu. Kegiatan (proses) yang dilaksanakan untuk menghasilkan suatu “rencana mikro” atau “disain”, lazim disebut “mendisain”. Dalam  bahasa Inggris, disebut “designing”. Sedangkan kegiatan (proses) yang dilaksanakan untuk menghasilkan suatu “rencana makro” atau “plan”, lazim disebut “memplan”. Dalam bahasa Inggris disebut “planning”. Kedua istilah ini, yaitu disain dan plan, juga banyak digunakan untuk menyebut berbagai jenis “rencana” yang sifatnya abstrak, tak nyata, atau tak terlihat mata; misalnya gagas (ide), konsep, strategi, atau pemikiran. Kedua istilah tersebut, yaitu “mendisain” atau “memplan”, dalam bahasa Indonesia umumnya (dengan tidak mempermasalahkan perbedaan yang terdapat di antara keduanya) dapat digantikan dengan satu istilah saja, yaitu “merencana”.
Istilah “mendisain”, lebih banyak digunakan untuk menunjukkan kegiatan/proses pelaksanaan pembuatan suatu rencana yang bersifat mikro (kecil, sempit, khas, detail, rinci). Misalnya mendisain jembatan (bridge designing), mendisain jalan (road designing), mendisain rumah (house designing), mendisain interior (interior designing), mendisain produk (product designing), mendisain barang industri (industrial designing), mendisain kendaraan (automotive designing), dan sebagainya. Sedangkan istilah “memplan”, lebih banyak digunakan untuk menunjukkan kegiatan/proses pelaksanaan pembuatan suatu rencana yang bersifat makro (luas, umum, global, menyeluruh). Misalnya : memplan strategi (strategic planning), memplan manajemen (management planning), memplan perusahaan (corporate planning), memplan proyek (project planning), dan sebagainya. Kedua istilah ini, yakni “mendisain” dan “memplan”, secara umum juga dapat digantikan dengan istilah “merencana” atau “merencanakan”.
Istilah “rancang-bangun”, meskipun maknanya setara dengan disain, tetapi dalam penggunaannya, umumnya lebih banyak dipakai di bidang konstruksi, bangunan, pekerjaan teknik sipil. Kegiatan “merancang-bangun” dapat dikatakan setara dengan “mendisain”. Istilah “reka-yasa”, meskipun maknanya setara dengan disain, tetapi dalam penggunaannya, umumnya lebih banyak dipakai di bidang enjinering (teknik). Kegiatan “merekayasa”, juga dapat dikatakan setara dengan “mendisain”. Istilah “rancangan”, meskipun juga setara dengan disain, tetapi dalam penggunaannya, umumnya lebih banyak dipakai di bidang pakaian atau textil. Kegiatan “merancang”, dapat dikatakan setara dengan “mendisain”. Dengan contoh penggunaan di atas, jelaslah bahwa sebenarnya di antara beberapa istilah tersebut tidak terdapat perbedaan makna, kecuali dalam penggunaannya saja.
Pengertian disain itu sendiri, sampai sekarang masih diperdebatkan orang. Hal ini, disebabkan banyaknya penjelasan para pakar tentang arti istilah disain, yang masing-masing disesuaikan dengan cara pandang yang berbeda. Kurun jaman yang berbeda, ternyata juga menimbulkan penafsiran makna istilah disain yang berbeda-beda. Beberapa pakar yang memberikan defisi istilah disain itu, misalnya Gregory. la, mendefinisikan disain sebagai : “Relating product with situation to give satisfaction“,’ yang lebih mengutamakan hubungan antara benda (barang) dengan suatu keadaan atau kondisi tertentu; dengan tujuan memberikan suatu kepuasan bagi pengguna barang (benda, produk) tersebut.
Sedangkan menurut Fielden : “Engineering design is the use of scientific principles, technical information and imagination in the definition of mechanical structure, machine or system to perform prespecified function with maximum economy and efficiency.”" Jika ditinjau, pernyataan Fielden ini lebih bersifat sempit, spesifik, dan kaku; karena hanya menyangkutkan pengertian disain dengan dunia teknik (enjinering) dalam kaitannya dengan segi ekonomi dan efisiensi. Sedangkan kenyataannya, disain sangat berkait erat dan dapat merambah berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang bisa sangat berbeda dan relatif sangat luas. Dalam hal ini, enjinering hanya merupakan salah satu bagian dari mata-rantai berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang mendukung proses disain. Meskipun demikian, memang dapat dikatakan bahwa peran enjinering terasa semakin penting dalam suatu proses disain. Hal ini, terutama semakin terasa pada masa sekarang (setelah masa terjadinya revolusi industri di Eropa), yakni setelah memasuki abad keduapuluh, menjelang abad keduapuluhsatu.
Perubahan pengertian disain juga dapat ditemukan pada pernyataan Anthony Bertram, dalam bukunya yang berjudul “Design“, yaitu sebagai berikut : `By 1588 the word `design’ has meaning `Purpose, aim, intention’ : by 1657 the meaning `The thing aimed at.’ In 1938 it has gained the composite meaning of aim plus thing aimed at. It has come to stand for a though the plan and manufacture to the finished object. Plato, seorang akhli falsafah terkenal dari Yunani kuno, dalam bukunya yang berjudul “Republic”, menyatakan : “… Are not exellent, beauty and correctness of every manufactured articles, or living creature, or action, to be tried only by reference to the purpose intended in their construction, or in their natural constitution 10 Kalau kita telaah, maka pernyataan Plato itu banyak dikaitkan dengan prinsip pembuatan barang (benda); yang banyak dihubungkan dengan masalah keindahan dan keserasian. Ini wajar, karena pada jaman itu, faktor keindahan, seni (art), dan keserasian, merupakan bagian penting dari proses disain (proses pembuatan benda-benda pakai). Pada jaman itu (jaman Yunani kuno), pembuatan benda-benda pakai, juga tidak dapat dilepaskan dari seni (terutama seni lukis, seni patting, dan seni ukir). Sehingga di antara keduanya, yaitu antara disain dan seni, terjadi hubungan yang sangat erat.
Dari beberapa pernyataan di atas, jelaslah bahwa sejak masa yang lalu, dari waktu ke waktu, telah terjadi pergeseran penafsiran pengertian istilah disain. Adanya berbagai pergeseran penafsiran dan pengertian disain itu, pada dasarnya disebabkan oleh pasang-surutnya perkembangan dan kemajuan kebudayaan, teknologi, dan ilmu pengetahuan yang dialami manusia. Berbagai perubahan dan perkembangan itu, juga menyebabkan terjadinya perubahan cara pandang. Pada awal perkembangannya, pengertian disain juga sering dicampur-adukkan dengan berbagai bentuk seni (art). Ini dapat dilihat pada masa-masa sebelum jaman revolusi industri di Eropa. Pada masa itu, seorang seniman (artist), juga sering berperan sebagai seorang perencana (disainer). Sedangkan pada masamasa selanjutnya, terutama setelah revolusi industri di Eropa, mulai terjadi pemisahan antara disain (design) dengan seni (art).
Semakin lama, pemisahan ini menjadi semakin jelas dan tegas. Akhirnya, pada masa sekarang, setelah memasuki abad keduapuluh, pemisahan antara disain (design) dengan seni (art), menjadi sangat jelas dan tegas; bahkan merupakan dua hal yang sama sekali berbeda. Sejauh ini, kita telah disibukkan dengan berbagai pernyataan yang berkait dengan pengertian disain. Masing-masing pernyataan itu, seringkali saling berlainan. Hal ini harus dipandang sebagai suatu
kewajaran, karena manusia itu sendiri juga berubah sesuai dengan perubahan kebudayaan yang dialaminya. Perlu juga disimak, adanya pepatah yang menyatakan bahwa “A life without design, in this sense is an animal life, the life of instinct and accident.”" Pepatah ini, dapat dianggap sebagai sebuah pepatah yang sangat bermakna bagi para perencana (disainer, enjiner); karena dengan sebuah kalimat yang singkat, kita sebenarnya dapat memahami, azas utama (hakekat) dari sebuah proses disain dalam anti yang sesungguhnya. Selain itu, pepatah ini juga memberikan pengertian yang dalam, tentang betapa pentingnya peran disain dalam kehidupan manusia.
d. Disainer, enjiner, dan ilmuwan
Disain dan proses disain, jika ditinjau umur dan sejarahnya, dapat dikatakan seumur dengan panjang sejarah keberadaan manusia di dunia. Secara langsung atau tidak langsung, dan secara disadari atau tidak disadari; kenyataannya disain sangat berperan dalam kehidupan manusia. Peran disain (dan proses disain), merambah berbagai kegiatan dalam kehidupan manusia. Segala proses berpikir, menganalisis, menghitung, menentukan, mencoba, yang bertujuan akhir membuat suatu “benda”, baik yang, berupa bends nyata yang bersifat “satmata” (dapat dilihat, diraba), maupun benda tak nyata yang bersifat “kasatmata” (tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba); dengan tidak membedakan apakah sederhana atau rumit; semuanya dapat disebut sebagai suatu proses disain. Dengan demikian, jika diperluas, maka proses disain adalah suatu proses yang dilakukan untuk “merencanakan pembuatan suatu hal”.
Proses disain, dalam kaitannya dengan pembuatan suatu benda, – perannya adalah menganalisis, menghitung, memperkirakan, menentukan, memutuskan, menggambarkan, dan menyatakannya secara obyektif dan sistematis; suatu gagas (idea), cara, rencana, atau sistem yang akan digunakan untuk “membuat suatu benda” (benda nyata atau benda tidak nyata). Dengan demikian, benda (produk, barang) yang direncanakan tersebut, akhimya dapat dibuat dan dapat digunakan oleh manusia secara aman, nyaman, mempunyai sifat, bentuk, dan dampak yang positif (setidaktidaknya terhadap penggunanya), serta berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki. Karena merupakan benda yang akan digunakan (dipakai) oleh manusia, maka faktor hubungan (relasi) antara manusia dan benda yang direncanakan itu (benda yang akan dibuat), dalam proses disain merupakan faktor yang sangat penting.
Proses perencanaan untuk membuat suatu benda yang mempunyai fungsi tertentu (yang dalam hal ini disebut “proses disain”), dapat dilakukan dengan berbagai cara (metoda, sistem) dan pendekatan yang berbeda, serta dilaksanakan oleh berbagai pelaku proses disain yang berbeda pula. Dalam hal ini, para pelaku proses disain dan pembuat produk (barang), pada jaman dahulu, lebih banyak diperankan oleh para seniman (artist).” Hal inilah yang membuat beberapa definisi disain pada masa lalu, selalu dikaitkan dengan berbagai bentuk seni (art) tertentu. Tetapi pada masa sekarang (pada jaman modern), setelah memasuki abad keduapuluh, sesuai dengan perkembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi; pelaku proses disain dan pembuat produk tidak lagi diperankan oleh satu kalangan yang sama, melainkan diperankan oleh berbagai kalangan yang berbeda. Masing-masing kalangan itu, mempunyai sifat,keakhlian, dan spesialisasi tertentu; dengan latar ilmu pengetahuan dan teknologi yang berbeda pula.
Sehingga dengan demikian untuk membuat sebuah produk (terutama produk yang rumit), diperlukan perencana-perencana yang berasal dari berbagai kalangan yang berbeda. Sedangkan proses pelaksanaannya, lebih bersifat antar disiplin ilmu pengetahuan dan teknologi. Para pelaku proses disain, para pembuat rencana, serta para pembuat produk pada masa sekarang, jikalau diperluas dapat meliputi berbagai kalangan yang sangat beragam, dengan lingkung yang sangat beragam pula. Misalnya : para exekutif, manajer, pimpinan, ilmuwan, enjiner, seniman, disainer, tukang, dan perajin. Tetapi dalam bidang-bidang yang sifatnya lebih sempit cakupannya (lebih spesifik), yakni perencanaan dan pembuatan suatu produk, lazimnya diperankan oleh para ilmuwan, enjiner, disainer, seniman, teknisi, perajin, dan bahkan tukang.
Ilmuwan, yang pada awal perkembangan kebudayaan manusia juga berperan dalam proses disain, akhirnya mempunyai peran yang sangat khas. Yaitu, berperan melakukan berbagai penelitian dan penyelidikan dalam rangka pengembangan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta lebih memusatkan perhatiannya pada berbagai hal yang sifatnya sebagai pendukung kegiatan para disainer dan enjiner. Dengan demikian, ilmuwan juga berperan sebagai mitra-kerja yang utama bagi para disainer dan enjiner. Penemuan, pengembangan berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi barn oleh para ilmuwan ini, sangat berpengaruh kepada proses disain dan proses produksi yang dilaksanakan oleh pare disainer dan enjiner.
Seniman, tidak dapat kita masukkan ke dalam kategori pelaku proses disain. Hal ini, disebabkan jenis kegiatan yang dilaksanakan oleh pare seniman, lebih mengarah kepada suatu proses yang lebih bersifat individual (pribadi), lebih menekankan karyanya pada segi seni (art), dan seringkali bersifat subyektif serta tidak mengarah kepada pembuatan suatu produk (benda) yang dibuat berulang kali dan dalam jumlah yang besar (repeated and mass production). Karya seorang seniman, kebanyakan merupakan suatu hasil kerja yang bersifat individual dan tidakberorientasi kepada pembuatan secara berulang. Kebanyakankara seniman, juga tidak ditujukan untuk digunakan oleh orang lain. Tetapi seorang seniman dapat juga berperan sebagai disainer, jika ia bekerja menggunakan kaidah-kaidah disain. Perajin, tukang dan teknisi, juga tidak dapat kita masukkan ke dalam kategori pelaku proses disain. Hal ini, disebabkan kegiatan perajin dan tukang, lebih banyak berperan pada segi teknis, pelaksanaan, dan pembuatan semata; meskipun perajin dan tukang dapat juga berorientasi untuk membuat benda (produk) dengan pola berulang dan dalam jumlah besar. (repeated and mass production). Selain itu, perajin, tukang, atau teknisi lazimnya juga tidak begitu berperan dalam proses disain secara intensif.
Misalnya, pada kegiatan pemikiran kreatif, gagas, dan konsep. Tetapi tidak tertutup kemungkinan bagi pare perajin, tukang, atau teknisi untuk berperan sebagai pelaku proses disain, jika is bekerja dengan menggunakan kaidah-kaidah disain. Dan uraian di atas, jelaslah bahwa peran disainer dan enjiner pada masa sekarang, bersifat lebih dominan dalam pelaksanaan proses disain. Hal ini, disebabkan dalam proses disain sangat diperlukan berbagai dukungan teknologi, ilmu pengetahuan, kemampuan, keterampilan, analisis, penentuan dan pembuatan keputusan, kreatifitas, inovasi; yang bersifat obyektif (bukan subyektif). Dalam dunia perencanaan, akhirnya dikenal adanya pemisahan secara tegas dalam tugas, peran, tanggung jawab, dan wewenang di antara disainer, enjiner, dan ilmuwan. Secara umum, perbedaan tugas, peran, dan wewenang masing-masing adalah sebagai berikut Disainer Berperan menganalisis, meneliti, menghitung,memperkirakan, menentukan, merencanakan, dan membuat benda (produk) berdasar azas pemenuhan berbagai fungsi hubungan (relasi) yang selaras antara benda (produk) yang direncanakannya dengan manusia sebagai penggunanya.
Dalam bahasa masa sekarang, hal ini seringkali disebut dengan istilah “hubungan antara manusia dengan mesin” (man to machine relation). Selain itu, is juga harus mempertimbangkan dan memperkirakan berbagai hal yang berkait dengan dampak keberadaan benda (produk) tersebut secara fisik dan psikologis terhadap pengguna dan lingkung sekitarnya. Enjiner Berperan menganalisis, meneliti, menghitung, memperkirakan, menentukan, merencanakan, dan membuat benda (produk) berdasar azas pemenuhan berbagai fungsi teknis dari benda yang direncanakannya; sesuai dengan berbagai persyaratan teknis (spesifikasi) yang telah ditentukan, sasaran, dan unjuk-kerja (performance) teknis yang dikehendaki. Selain itu, ia juga harus mempertimbangkan dan memperkirakan berbagai hal yang berkait dengan dampak keberadaan benda (produk) tersebut secara teknis terhadap pengguna dan lingkung sekitarnya. Dalam bahasa masa sekarang, hal ini seringkali disebut dengan istilah “hubungan antara mesin dengan mesin”(machine to machine relation).
Ilmuwan Berperan menganalisis, meneliti, menghitung, memperkirakan, menentukan, merencanakan, dan memberikan berbagai masukan (input) merupa pertimbangan, solusi, bagi para disainer dan enjiner; sesuai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasainya. Dalam bahasa masa sekarang, hal ini seringkali disebut dengan istilah “hubungan antara manusia dengan ilmu pengetahuan” (man to knowledge relation). Demikianlah, berbagai contoh keakhlian yang pada masa sekarang ini semakin dikembangkan orang. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian cepat, akhirnya juga menghendaki adanya pemilahan dalam bidang pendidikan. Dengan demikian, melalui suatu jenjang pendidikan tertentu, seorang ilmuwan, enjiner, atau disainer secara bertahap, dapat menjadi seorang akhli, pakar, atau “spesialis” (specialist) dalam suatu bidang tertentu. Ini sangat berlawanan dengan pola dan sistem pendidikan jaman dahulu, khususnya sebelum abad keduapuluh, yang lebih cenderung kepada dihasilkannya sarjana atau ilmuwan yang mempunyai keakhlian yang bersifat luas, umum, tidak begitu dalam, dan cenderung mencakup beberapa cabang disiplin ilmu pengetahuan sekaligus; yang lebih lazim disebut “generalis” (generalist). Tetapi keadaan ini tidak dapat dipertahankan terus-menerus. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sedemikian cepatnya, sehingga tidak memungkinkan lagi bagi seseorang untuk mempelajari, menguasai, dan mendalami berbagai hal sekaligus.
e. Perencana yang bekerja sendiri atau berkelompok
Seperti telah diuraikan, peran dan kemampuan perencana untuk bisa menghasil produk yang baik, sangat dipengaruhi oleh tinggirendahnya tingkat pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan wawasan. Selain itu, tentu saja dipengaruhi juga oleh tinggirendahnya tingkat kerumitan produk yang direncanakan hendak dibuat. Secara umum, cara kerja perencana dapat dikategorikan sebagai berikut
a. Perencana yang bekerja secara mandiri dan tidak mempunyai kelompok kerja tertentu (freelance designer).
b. Perencana yang bekerja secara berkelompok bersamasama orang lain, yang mempunyai bidang keakhlian yang sama.
c. Perencana yang berkerja berkelompok bersama-sama orang lain, yang mempunyai bidang keakhlian berlainan (tidak sama).
Pada perencanaan untuk membuat suatu produk yang relatif sederhana, seluruh kegiatan perencanaan mungkin dapat dilakukan oleh seorang perencana. Dalam hal ini, bahkan tugas dan peran enjiner sering pula “dirangkap”. Tetapi hal ini hanya dapat dilaksanakan pada berbagai jenis produk yang relatif amat sangat sederhana. Dalam kasus sebuah produk direncanakan (atau mungkin juga dibuat) oleh seorang perencana, maka karya disain tersebut memang dapat dikatakan sebagai hasil karya seseorang (basil karya satu orang). Disebabkan tingkat penguasaan manusia atas suatu keakhlian, teknologi, ilmu pengetahuan, wawasan, dan pengalaman bersifat amat sangat terbatas, maka pada jenis jenis produk tertentu yang sangat rumit, proses perencanaannya tidak dapat dilaksanakan oleh satu orang perencana saja. Dalam hal ini, diperlukan kerja-sama antar pakar (akhli, spesialis) dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda untuk melakukan seluruh proses perencanaan.
Kenyataannya, banyak produk yang hanya dapat dibuat berdasar proses perencanaan yang dilakukan dengan cara bekerja-sama antar pakar (akhli, spesialis) yang berasal dari berbagai dis iplin ilmu pengetahuan yang berda-beda. Para perencana yang berasal dari berbagai disiplin ilmu ini, bergabung dalam suatu kelompok kerja atau regu kerja (team work). Jika pola seperti ini yang diterapkan, maka produk yang dihasilkan tidaklah dapat dipandang sebagai hasil kerja seorang perencana saja; melainkan harus dipandang sebagai hasil kerja (hasil karya) sekelompok perencana yang tergabung dalam suatu regu kerja (team work). Setiap orang dalam regu kerja itu, mempunyai peran dan sumbangan masing-masing. Peran dan sumbangan setiap orang dalam regu kerja tersebut, tidaklah dapat dikatakan sama (tidak setara). Setiap anggauta regu kerja tersebut, berperan dan menyumbangkan berbagai bahan pemikiran dan alternatif pemechhan masalah sesuai dengan keakhlian masing-masing dalam proses perencanaan. Tetapi yang pasti, semuanya bekerja untuk mencapai sasaran akhir (target) yang sama, yaitu dihasilkannya suatu produk tertentu, seperti yang dikehendaki; berdasar suatu konsep, ide (gagas), dan fungsi tertentu; yang telah disepakati sebelumnya.
f. Perencanaan produk
Sejauh ini, sudah diuraikan berbagai hal yang berkait dengan perencanaan secara umum. Tetapi, karena buku ini bertujuan memberikan gambaran yang berkait dengan perencanaan produk (product design) yang dimasukkan ke dalam kategori perencanaan yang bersifat mikro, maka untuk selanjutnya pembahasan akan dibatasi pada segala sesuatu yang berkait  dengan proses disain (proses perencanaan) dalam pembuatan suatu produk. Pengertian disain produk (product design), adalah suatu proses perencanaan (proses disain) yang dilakukan oleh “perencana produk” (product designer), untuk membuat suatu produk (barang); yang digunakan untuk memenuhi fungsi kebutuhan hidup manusia. Dalam hal ini, pembahasan dilepaskan dari berbagai spesialisasi tertentu yang menyangkut proses perencanaan untuk membuat suatu produk. tertentu; misalnya : perencana mebel (furniture designer), perencana kendaraan (automotive designer) dan sebagainya. Sehingga dengan demikian, yang dimaksud dengan “perencana” (designer) dalam buku ini, untuk selanjutnya adalah perencana yang melakukan proses perencanaan (proses disain) dalam rangka pembuatan suatu produk secara umum; yakni yang lebih dikenal dengan istilah “perencana produk” atau “disainer produk” (product designer); kecuali jika dinyatakan lain.
Dalam dunia perencanaan suatu produk, dikenal adanya dua istilah perencana (disainer), yaitu “perencana produk” (product designer) dan “perencana barang industri” (industrial designer). Pada dasamya, kedua jenis perencana ini berperan melaksanakan proses perencanaan (proses disain) dalam rangka pembuatan suatu produk tertentu. Perbedaan mendasar yang terjadi di antara keduanya, pada dasamya hanya terletak kepada cara, sistem, atau pendekatan yang digunakan untuk merealisasikan pembuatan produknya. Perencana produk Perencana/disainer produk (product designer) bekerja melaksanakan suatu proses perencanaan (proses disain) dalam rangka pembuatan suatu produk tertentu, dengan lingkup kerja yang lebih luas dan menggunakan metoda serta pendekatan yang belum tentu bersifat industri; melainkan bisa menggunakan berbagai jenis pendekatan yang berbeda. Perencana barang industri Perencana disainer barang industri (industrial designer) bekerja melaksanakan suatu proses perencanaan (proses disain) dalam rangka pembuatan suatu produk tertentu, dengan lingkup kerja yang lebih sempit, spesifik (khas), dan menggunakan metoda serta pendekatan yang bersifat industri (industrial approach). Dalam hal ini, yang dimaksud pendekatan industri, adalah sistem pembuatan produk secara masal.
Disebabkan pembahasan dalam buku ini tidak dibatasi oleh metoda dan pendekatan industri (industrial approach) tertentu, maka untuk keduanya, digunakan satu istilah saja, yaitu “perencana” (designer) yang berlaku secara umum. Dengan demikian, tidak perlu dipersoalkan perbedaan yang ada di antara kedua istilah tersebut (yaitu istilah “perencana produk” dan “perencana barang industri”). Istilah perencana (disainer) yang digunakan dalam buku ini, juga tidak membedakan perencana yang berasal dari berbagai kalangan yang berbeda. Misalnya : perencana yang berasal dari kalangan enjiner, ilmuwan, disainer, seniman, teknisi, tukang, perajin, atau bahkan orang biasa. Ini didasarkan kenyataan bahwa mereka ini, dapat juga bertindak dan berperan sebagai perencana (disainer), jika dalam pelaksanaan kegiatannya menggunakan kaidah-kaidah disain. Meskipun demikian, umumnya untuk menjadi seorang perencana (designer) dan untuk bisa melaksanakan fungsinya, seseorang harus mengikuti tahap dan jenjang pendidikan yang bersifat khusus selama bertahun-lahun
g. Menjadi seorang perencana produk
Secara singkat, seorang perencana, khususnya perencana produk haruslah menguasai sejumlah hal, sebagai berikut
a. Mempunyai bakat (talent), ini merupakan salah satu syarat yang bisa dikatakan terpenting. Tanpa adanya bakat, sangatlah diragukan bahwa seseorang bisa menjadiseorang perencana produk yang baik.
b. Menguasai sistem/cara untuk menyatakan gagas, konsep, atau rencana, dengan baik, jelas, dan sistematis dalam bentuk bahasa gambar (drawing). Untuk ini, is harus menguasai berbagai teknik gambar, terutama menggunakan media dua dimensi; misalnya menyatakan rencananya dalam bentuk gambar di atas selembar kertas. Atau, menggunakan media lainnya, misainya menggunakan komputer. Persyaratan ini, bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar.
c. Menguasai sistem/cara untuk menyatakan gagas, konsep, atau rencana, dengan baik dan jelas dalam bentuk bahasa tulis (text). Untuk ini, is harus menguasai dengan baik cara mendeskripsikan, cara mengkomunikasi menggunakan bahasa tulis, menguasai bahasa tertentu, menguasai tata bahasa, cars menulis, dan sistematika menulis.
d. Menguasai sistem/cara untuk menyatakan gagas, konsep, atau rencana, dalam bentuk bahasa lisan (verbal). Untuk ini, is harus menguasai berbagai cara untuk mengkomunikasikan hasil kerjanya kepada orang lain dengan cara berbicara (talking).
e. Menguasai sejumlah pengetahuan (knowledge) dan cara (knowhow), yang diperlukan untuk melaksanakan proses perencanaan. Tanpa penguasaan atas pengetahuan minimal yang diperlukan, maka sangatlah disangsikan bahwa seorang perencana.produk bisa bekerja dengan baik untuk menghasilkan suatu rencana (disain) yang baik pula.
f. Bekerja secara sistematis, ilmiah, dan bermetoda. Tanpa ketiga hal ini, sangatlah disangsikan bahwa seorang  perencana produk bisa menghasilkan suatu rencana (disain) yang baik. Termasuk ke dalam hal ini, adalah bekerja menggunakan berbagai kaidah disain dan melakukan berbagai percobaan (experiment) untuk menguji berbagai gagas yang hendak diungkapkannya.
g. Bisa menyatakan gagas, konsep, atau rencananya dalam bentuk bahasa tiga dimensi, untuk mempermudah pemahaman orang lain atas hasil kerjanya. Hal ini, misalnya bisa dilakukan dengan cara membuat model, mok-ap, atau prototipe. Berbagai persyaratan tersebut di atas, pada dasarnya bersifat mengikat dan mutlak harus dipenuhi oleh seorang perencana produk. Sedangkan persyaratan lainnya, bolehlah dikatakan sebagai persyaratan tambahan yang bersifat tidak mengikat dan tidak mutlak harus dipenuhi. Jika seseorang tidak memenuhi salah satu persyaratan di atas, maka besar kemungkinan is akan mengalami banyak kesulitan dalam merealisasikan berbagai gagasnya menjadi sebuah benda atau produk tertentu.
h. Bidang kerja perencana produk
Pada masa sekarang, dikenal adanya berbagai jenis bidang kerja (spesialisasi) bagi para perencana produk dan perencana barang industri. Di bawah ini, dicontohkan berbagai bidang kerja yang mungkin digeluti oleh seorang perencana produk, misalnya
a. Disain mebel (furniture design). Ini merupakan bidang perencanaan yang meliputi berbagai barang, produk, atau peralatan kelengkapan mebel (furniture). Misalnya : kursi, meja, lemari, tempat tidur, dan sebagainya. Secara umum, bidang ini  biasanya menangani berbagai -kelengkapan rumah tangga, kantor, gedung, atau bangunan, yang diletakkan di dalam ruang (in door).
b. Disain barang industri (industrial goods design). Ini merupakan bidang perencanaan yang meliputi berbagai barang, produk, atau peralatan kelengkapan industri dan pabrik. Misalnya :
traktor, buldozer, katrol, peralatan tambang, peralatan pertanian, peralatan perkebunan, perlaatan kehutanan, peralatan geologi, dan sebagainya.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bidang kerja seorang perencana produk, pada dasarnya sangat terbuka luas. Bahkan pada masa sekarang, pembagian bidang kerja ini ada kecenderungan menjadi semakin sempit dan semakin spesifik (khas); sehingga menjadi semakin banyak (semakin luas) pilihannya.
i. Proses perencanaan dan pembuatan produk
Pembuatan suatu produk tertentu, apapun jenisnya, dengan tidak memandang apakah produk tersebut sederhana atau rumit, besar atau kecil, canggih atau tidak canggih, berdiri sendiri atau merupakan kelompok, merupakan suatu serf produk atau tidak; pada dasarnya selalu melalui dua rangkaian proses; yaitu rangkaian proses perencanaan (proses disain) dan rangkaian proses pembuatan (proses produksi). Kedua proses ini, berlangsung sejak produk tersebut belum ada (belum direalisasikan), sampai produk tersebut menjadi kenyataan (direalisasikan). Untuk dapat merealisasikan keberadaan suatu produk, diperlukan dukungan berbagai unsur disain, yang berfungsi mendukung berlangsungnya proses perencanaan dan proses pembuatan;
yaitu :
a. Adanya masalah (problem), yang digunakan sebagai pemicu awal dimulainya proses perencanaan (proses disain); ini merupakan bagian terpenting dari awal proses disain. Secara umum, tanpa adanya masalah lebih dahulu, perencana tidaklah dapat bekerja. Masalah, bisa mempunyai “sumber” (source) atau “asal” (originate) yang berbedabeda.
b. Adanya gagas (idea) dan jalan ke luar (solution, way out), yang digunakan sebagai dasar awal bagi pemecahan/penyelesaian suatu masalah (problem solving) yang dihadapi. Ini merupakan bagian terpenting dari sistem untuk menghasilkan jalan ke luar (way out, solution) bagi sejumlah masalah yang dihadapi perencana. Gagas (idea), bisa dikemukakan dalam bentuk lisan, tulis, gambar, sketsa, model, dan sebagainya.
c. Adanya dukungan berbentuk data dan fakta (fact), yang berkait erat dengan berbagai aspek disain; yang nantinya akan digunakan sebagai bahan untuk melakukan proses analisis atas berbagai aspek/faktor disain, guna membuat berbagai keputusan yang diperlukan dalam pelaksanaan proses perencanaan (proses disain).
d. Adanya dukungan berbentuk proses analisis, yang dilaksanakan dengan cara mengurai, meneliti, melacak, memperhitungkan, memperkirakan, dan/atau mengamati secara sistematis, ilmiah, dan bermetoda, atas berbagai masalah, gagas, serta aspek disain; yang hasilnya akan digunakan untuk membuat berbagai keputusan, membuat konsep, dan menentukan berbagai pilihan yang diperlukan dalam proses disain.
e. Adanya konsep disain (design concept), yang akan digunakan sebagai pegangan, patokan, atau acuan (term of reference, TOR) oleh perencana selama proses perencanaan (proses disain) dilaksanakan, dan oleh pelaksana selama proses pembuatan (proses produksi) dilaksanakan; yang disusun atas sejumlah kesimpulan yang dihasilkan dari proses analisis atas berbagai aspek disain.
f. Adanya proses perencanaan atau proses disain (design process), yang merupakan suatu proses untuk merealisasikan gagas (idea) menjadi suatu “rencana produk” (rencana pembuatan suatu produk) yang bersifat realistis dan masuk akal, yang didasarkan atas suatu konsep disain tertentu; dalam rangka pencarian penyelesaian (problem solving) bagi satu atau sejumlah masalah tertentu.
g. Adanya proses produksi (production process) atau proses pabrikasi (fabrication process, manufacturing process), yang digunakan untuk merealisasikan suatu “rencana produk”, sehingga menjadi produk yang berwujud nyata, seperti yang telah direncanakan lebih dahulu.
Unsur-unsur inilah yang menjadi menjadi pendukung pelaksanaan proses perencanaan dan pelaksanaan proses produksi, yang pada dasarnya merupakan gabungan dua proses yang akan membuat suatu produk menjadi dapat diwujudkan (direalisasikan)keberadaannya.
Unsur-unsur tersebut di atas, merupakan unsur-unsur yang sifatnya mutlak harus ada dalam setiap proses pembuatan suatu produk. Para perencana, baik secara sadar atau secara tidak sadar, selalu menggunakan unsur-unsur tersebut di atas. Mungkin ada suatu proses yang tidak terlihat secara nyata oleh orang lain; karena proses tersebut tidak dinyatakan dalam bentuk tulis, gambar, sketsa, diskusi, atau tidak dinyatakan secara visual atau verbal kepada orang lain oleh perencananya. Tetapi bagaimanapun juga, setiap perencana selalu menggunakan unsur-unsur tersebut. Masalah (problem), merupakan awal dari seluruh proses perencanaan (proses disain) dan bersifat sebagai pemicu bagiberlangsungnya sebuah proses perencanaan (proses disain). Tanpa adanya suatu masalah tertentu, perencana tidak dapat (dan tidak perlu) berbuat apa-apa, karena tidak ada yang harus dikerjakan (tidak ada yang harus diselesaikan).24 Dengan demikian, adanya suatu masalah, merupakan suatu hal yang mutlak harus ada lebihdahulu. Dalam sejumlah kasus, masalah sering terlihat seakan-akan seperti tidak ada (no problem). Karenanya, masalah harus digali, diangkat, dipahami, dan kemudian dinyatakan; sehingga menjadi jelas keberadaan dan kebenarannya. Hal ini, sering merupakan kesulitan tersendiri. Untuk dapat melaksanakan hal tersebut, bahkan seringkali diperlukan kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang bersifat khan.”
Gagas (idea), merupakan suatu pemikiran awal yang pada dasarnya berisi cara atau metoda pemecahan suatu masalah. Untuk mencari atau ‘menemukan suatu gagas (idea), diperlukan masalah lebih dahulu (yang akan dicarikan pemecahannya). Tanpa adanya suatu masalah tertentu, tidak akan ada gagas (idea) yang diperlukan. Gagas juga merupakan awal dari seluruh proses disain dalam arti yang nyata. Kemampuan untuk dapat menghasilkan berbagai gagas (idea) yang akan digunakan dan dikembangkan untuk menyelesaikan suatu masalah (atau beberapa masalah sekaligus), merupakan salah satu kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang perencana. Dukungan berbagai jenis data dan fakta, berperan sebagai bahan yang akan digunakan untuk melakukan analisis dan pembuatan keputusan dalam seluruh proses disain. Data-data yang digunakan secara langsung maupun tidak langsung, akan sangat menentukan apakah proses disain yang dilaksanakan tersebut lengkap atau tidak. Artinya, baik-buruknya dukungan, jenis, mutu, validitas, dan jumlah data; secara langsung akan sangat berpengaruh kepada baik buruknya mutu proses disain yang dilaksanakan. Jika mutu proses perencanaan (proses disain) rendah (buruk), maka umumnya akan dihasilkan suatu produk yang bermutu rendah pula.
Demikian pula sebaliknya. Berbagai data yang diperlukan oleh para perencana, seringkali harus dicari dan tidak tersedia begitu saja. Karenanya, kemampuan untuk menggali, mengumpulkan, menganalisis, mengolah, merangkum, dan menyimpulkan berbagai jenis data dan fakta, merupakan salah satu kemampuan yang mutlak harus dimiliki oleh seorang perencana (disainer). Proses analisis (analisys process), merupakan salah satu proses yang sangat penting dalam pelaksanaan proses disain. Berbagai keputusan, pertimbangan, dan konsep; sebagian besar didasarkan atas hasil kesimpulan atas berbagai analisis. Disebabkan tingkat kepentingannya itu, maka adalah mutlak bahwa seorang perencana harus mempunyai kemampuan untuk melakukan proses analisis secara sistematis, obyektif, dan rasional. Proses analisis, umumnya merupakan bagian yang sulit bagi para perencana, karena berdasar berbagai hal yang dihasilkan oleh proses ini, sejumlah keputusan disain (design decission) yang penting harus dibuat. Artinya, kemampuan seorang perencana dalam berpikir, mengolah, dan memutuskan suatu hal, diuji dalam pelaksanaan proses ini.
Konsep disain (design concept), merupakan pegangan atau acuan yang digunakan oleh perencana sebagai “patokan” atau “acuan” (term of reference, TOR) dalam pembuatan berbagai keputusan yang dilakukan selama pelaksanaan seluruh proses disain. Didukung oleh berbagai masalah (problem), gagas (idea), pemikiran, serta analisis atas berbagai aspek/faktor; konsep disain berperan sebagai “nyawa dari sebuah disain” (the spirit of design). Dalam konsep disain, berbagai pemikiran, gagas, kemampuan, wawasan, seorang perencana dicurahkan, untuk menyatakan suatu konsep. Karenanya, kemampuan seorang perencana untuk dapat menyusun, menyatakan, dan menyampaikan suatu konsep disain secara baik dan sistematis, merupakan salah satu faktor yang sangat penting dan mutlak harus dimiliki.